
Cilegon, sinarlampung.co – Pelayanan seorang pengemudi ojek online (ojol) yang mengenakan atribut Maxim di Kota Cilegon menuai keluhan. Seorang konsumen bernama Azhar mengaku mendapat perlakuan kurang menyenangkan setelah pengemudi yang mengantarkan pesanan makanannya diduga berbicara dengan nada tinggi melalui sambungan telepon.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (27/10/2026) sekitar pukul 19.40 WIB, ketika Azhar tengah menunggu pesanan makanan dari salah satu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Palas, Kota Cilegon.
Menurut Azhar, pengemudi yang diketahui bernama Ahmad Fauzan itu menghubunginya melalui telepon. Namun, bukannya menanyakan petunjuk lokasi secara baik-baik, pengemudi tersebut justru diduga meluapkan kekesalannya karena kesulitan menemukan alamat tujuan.
“Saya ditelepon sekitar pukul 19.40 WIB. Bukannya bertanya baik-baik, dia malah marah-marah dengan nada tinggi. Katanya sudah sampai sepuluh kali muter-muter, tetapi tidak ketemu lokasi,” ujar Azhar.
Azhar mengaku terkejut dengan sikap pengemudi tersebut. Sebagai konsumen, ia merasa tidak semestinya menjadi sasaran kemarahan hanya karena pengemudi mengalami kesulitan menemukan alamat pengantaran.
“Saya bilang, kenapa kamu marah-marah ke saya? Saya ini pembeli. Kalau memang kesulitan mencari lokasi, seharusnya komunikasi baik-baik. Bisa juga tanyakan ke warung UMKM tempat pesanan itu diambil, bukan malah memarahi pelanggan,” tegasnya.
Ketegangan disebut berlanjut ketika pengemudi akhirnya tiba di lokasi untuk menyerahkan makanan. Azhar mengakui dirinya turut terpancing emosi dan menegur keras pengemudi tersebut karena merasa tidak dihargai sebagai pelanggan.
Pengemudi itu disebut menggunakan sepeda motor Honda BeAT berwarna putih dengan nomor polisi yang memuat angka 3969, mengenakan jaket Maxim serta helm berwarna hitam.
Azhar menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya, pekerjaan sebagai mitra pengemudi layanan transportasi dan pengantaran berbasis aplikasi menuntut sikap profesional, kesabaran, dan kemampuan berkomunikasi dengan pelanggan.
“Kalau memang alamatnya sulit ditemukan, tinggal komunikasi dengan baik. Jangan sampai pelanggan yang sudah membayar layanan justru dimarah-marahi,” katanya.
Azhar menyatakan berencana menyampaikan pengaduan kepada manajemen Maxim agar perilaku pengemudi tersebut dievaluasi sesuai mekanisme dan ketentuan perusahaan.
Ia juga berharap adanya permintaan maaf atas kejadian tersebut. Pasalnya, menurut pengakuannya, hingga interaksi berakhir, pengemudi yang bersangkutan belum menyampaikan permohonan maaf.
“Saya akan meminta manajemen Maxim mengevaluasi pengemudi tersebut. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang kepada pelanggan lain. Sampai selesai mengantar makanan pun tidak ada permintaan maaf,” ungkapnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga etika komunikasi dalam pelayanan jasa pengantaran, terutama ketika menghadapi kendala teknis di lapangan.
Meski demikian, keluhan tersebut masih merupakan keterangan sepihak dari konsumen dan memerlukan klarifikasi dari pengemudi maupun perusahaan aplikasi.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan dari Ahmad Fauzan maupun pihak manajemen Maxim mengenai kronologi dan keluhan konsumen tersebut. Ruang klarifikasi dan hak jawab tetap terbuka bagi pihak terkait. (*)