
Lampung Selatan, sinarlampung.co – Sebanyak 401 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung mulai menempuh Tahun Ajaran 2026/2027. Program pendidikan berasrama ini menjadi upaya Pemerintah Provinsi Lampung bersama Pemerintah Pusat untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, saat menghadiri Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa Tahun Ajaran 2026/2027 di Gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung, Kota Baru, Lampung Selatan, Jumat (31/7/2026).
Dalam kegiatan itu, para siswa menampilkan berbagai kemampuan yang telah mereka pelajari selama satu tahun terakhir. Mereka tampil sebagai pembawa acara dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Inggris, dan Jepang, menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris, Jepang, dan Arab, memperagakan keterampilan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka), serta menampilkan Tari Sigeh Pengunten.
Gubernur mengatakan Sekolah Rakyat Terintegrasi menyediakan pendidikan mulai jenjang SD, SMP hingga SMA. Program yang merupakan inisiatif Presiden Republik Indonesia tersebut ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama yang sempat putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Tahun lalu kami menerima 71 siswa pertama yang benar-benar membutuhkan pendidikan. Ada yang putus sekolah, ada yang harus bekerja membantu orang tua, bahkan ada yang sudah kehilangan harapan terhadap masa depannya. Hari ini, hanya dalam waktu satu tahun, mereka mampu berbicara dalam bahasa Inggris, Jepang, bahkan Arab. Inilah bukti bahwa pendidikan berkualitas mampu mengubah kehidupan,” ujar Gubernur.
Menurut Gubernur, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa kondisi ekonomi bukan penghalang bagi anak untuk berprestasi jika memperoleh akses pendidikan yang layak. Karena itu, Sekolah Rakyat menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak sumber daya manusia yang berkarakter, berdaya saing, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Ia juga mengajak para orang tua terus memberikan dukungan kepada anak-anak mereka selama menempuh pendidikan.
“Kalian bukan hanya membawa harapan orang tua, tetapi juga membawa harapan seluruh masyarakat Provinsi Lampung. Di pundak kalian, kami titipkan masa depan Lampung yang lebih baik,” pesannya kepada para siswa.
Selain pendidikan akademik, Gubernur menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui nilai-nilai budaya Lampung, seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Nengah Nyappur. Nilai tersebut diharapkan menjadi bekal agar para siswa tumbuh menjadi generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan mampu menjaga kehormatan diri maupun daerah.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung, Asis Prasetyo, mengatakan jumlah peserta didik kini mencapai 401 siswa. Rinciannya terdiri dari 60 siswa SD, 150 siswa SMP, 120 siswa SMA, serta 71 siswa angkatan pertama yang telah lebih dahulu mengikuti pendidikan.
Menurut Asis, Sekolah Rakyat mengusung trilogi pendidikan, yakni Memuliakan Wong Cilik, Menjangkau yang Belum Terjangkau, dan Memungkinkan yang Tidak Mungkin. Kurikulum yang digunakan mengacu pada Kurikulum Nasional dengan penguatan pendidikan karakter melalui sistem asrama.
Seluruh siswa memperoleh fasilitas pendidikan secara gratis, mulai dari tempat tinggal di asrama, seragam sekolah, perlengkapan belajar, dukungan pembelajaran digital, makan tiga kali sehari, hingga makanan ringan dua kali sehari.
Ia juga menegaskan sekolah menerapkan aturan tegas terhadap segala bentuk perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dan radikalisme. Pelanggaran terhadap aturan tersebut tidak akan ditoleransi, baik dilakukan guru, tenaga kependidikan, maupun siswa.
Pada kesempatan itu, Gubernur berdialog dengan sejumlah siswa. Salah satunya Muhammad Ridwan Pratama, siswa kelas IX asal Sukaraja yang sebelumnya merupakan anak buruh bengkel. Ridwan mengaku berhasil meraih medali emas karate dan bercita-cita menjadi chef agar kelak dapat memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah umrah.
Gubernur juga berbincang dengan Dewi Bunga Lestari, calon siswi asal Pringsewu yang sempat berhenti sekolah selama dua tahun karena keterbatasan biaya. Kini, melalui Sekolah Rakyat, Dewi kembali memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan dan bercita-cita menjadi anggota Polri serta melanjutkan studi ke Turki melalui beasiswa.
“Harapan-harapan yang sempat terputus kini tersambung kembali melalui Sekolah Rakyat. Inilah tujuan besar program ini, membuka jalan bagi anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Gubernur.
Sebagai penanda dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyematkan atribut secara simbolis kepada calon siswa. Pemerintah Provinsi Lampung bersama Pemerintah Pusat berharap program Sekolah Rakyat terus memperluas akses pendidikan sekaligus melahirkan generasi muda yang cerdas, berkarakter, mandiri, dan berdaya saing. (*)