
Lampung Utara, sinarlampung.co – Pangdam XXI/Radin Inten, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi, resmi diangkat menjadi saudara adat Abung Siwo Migo melalui prosesi Angkon Muakhi yang digelar di Kelurahan Kelapa Tujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara, Kamis (9/7/2026).
Prosesi adat tersebut dipimpin tokoh masyarakat Lampung Utara, Ansyori Sabak bergelar Suttan Rajo Putra Negara, melalui rangkaian Pengangkenan dan Pengguain. Pengangkatan itu menandai diterimanya Kristomei sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat Lampung.
Dalam prosesi tersebut, Kristomei diterima sebagai warga adat Pungguk Lama, Kebumian Suttan Rajo Putra Negara, Suku Agung Kampung Pungguk Lama, Kecamatan Abung Timur. Ia kemudian memperoleh gelar Raja Satria Negara melalui prosesi Megawo Adat Lampung (Khuruk), yang akan dilanjutkan dengan prosesi Menggawo Bumi (Turun Mandei) dengan juluk Pangeran Satria Negara.
Sementara itu, sang istri, Desi Asti Megasari, juga menerima gelar adat Ratu Ibu Pertiwi dalam prosesi Megawo Adat. Selanjutnya, ia akan menjalani prosesi Turun Mandei untuk menerima juluk Pangeran Ratu Ibu Pertiwi.
Tokoh adat Pungguk Lama, Ibnu Hajar bergelar Suttan Guttei Sang Rateu, mengatakan Angkon Muakhi bukan sekadar seremoni, melainkan ikatan persaudaraan yang disertai tanggung jawab menjaga kehormatan keluarga besar adat dan melestarikan budaya Lampung.
“Pengangkatan ini membawa konsekuensi tanggung jawab. Gelar adat bukan hanya penghormatan, tetapi juga amanah untuk menjaga persaudaraan dan marwah adat,” ujarnya.
Ansyori Sabak menjelaskan, pengangkatan Kristomei memiliki makna tersendiri karena Pangdam XXI/Radin Inten lahir dan besar di Lampung Utara meski berasal dari keturunan Batak. Melalui prosesi Angkon Muakhi, statusnya sebagai bagian dari masyarakat adat Lampung kini memperoleh pengakuan secara resmi.
Ia berharap prosesi tersebut menjadi pesan bagi generasi muda bahwa keberagaman dapat dipersatukan melalui nilai-nilai budaya lokal.
Dalam sambutannya, Kristomei mengaku memiliki ikatan batin yang kuat dengan Lampung Utara karena menghabiskan masa kecil hingga remajanya di daerah tersebut.
“Air pertama yang saya minum adalah air Lampung Utara. Hari ini, ikatan batin itu mendapatkan pengakuan melalui adat. Saya bersyukur dan merasa terhormat menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat adat Lampung,” katanya.
Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, menilai tradisi Angkon Muakhi merupakan warisan budaya yang memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan masyarakat. Menurutnya, tradisi tersebut perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hamartoni juga mengajak Kristomei untuk terus menjaga hubungan dengan kampung halamannya sekaligus berkontribusi bagi pembangunan Lampung Utara.
Usai prosesi pengangkatan saudara adat, rangkaian acara dilanjutkan dengan Sewarei sebagai simbol penguatan hubungan kekeluargaan. Pada kesempatan itu juga dicanangkan hubungan persaudaraan adat antara Pangeran Satria Negara dengan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang bergelar Suttan Tihang Negara.
Pencanangan serupa juga dilakukan kepada Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, mantan Bupati Lampung Tengah Mustofa, serta Ketua BEM Universitas Lampung Aditiya Putra Bayu.
Rangkaian Angkon Muakhi dijadwalkan berlanjut pada Sabtu (11/7/2026) melalui prosesi Turun Mandei di kawasan wisata Pasir Putih, Kabupaten Lampung Selatan. Prosesi tersebut menjadi penutup sekaligus penyempurna pengangkatan Mayjen TNI Kristomei Sianturi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat adat Lampung. (*)