
KATINGAN, sinarlampung.co– Operasi penggerebekan bandar narkoba jenis sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, berujung tragis. Tiga anggota Polri gugur setelah mendapatkan perlawanan sengit dan brutal dari sekelompok massa bersenjata saat proses penangkapan berlangsung.
Ketiga personel yang gugur dalam tugas tersebut adalah Aipda Yudhie Perdana Putra, Bripda Nopandri Ramadhana, dan Aiptu Sumaryanto. Korban terakhir sempat dinyatakan hilang pasca-bentrokan sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di aliran sungai.
Peristiwa berdarah ini bermula saat tim kepolisian mengepung dan melakukan penindakan terhadap seorang gembong narkoba berinisial BIO di wilayah Desa Tumbang Kalemei.
Begitu target utama (BIO) berhasil dikepung dan diamankan oleh petugas, situasi di lokasi mendadak berubah mencekam. Sekelompok massa yang diduga merupakan jaringan dari sang bandar langsung merangsek maju dan melakukan perlawanan secara masif. Massa menyerang petugas secara membabi buta menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan.
Akibat serangan mendadak tersebut, dua personel yakni Aipda Yudhie dan Bripda Nopandri gugur di tempat kejadian perkara (TKP). Sementara itu, Aiptu Sumaryanto dilaporkan hilang dari lokasi di tengah situasi chaos saat bentrokan terjadi.
Pasca-insiden tersebut, tim gabungan dari Polda Kalteng, Polairud, Kodim 1019/Katingan, Basarnas, beserta warga langsung menggelar operasi penyisiran darat dan perairan sejak Minggu pagi (5/7/2026).
”Sekitar pukul 08.42 WIB, didapatkan informasi dari Babinsa Rantau Asem atas nama Kopda Imam bahwasanya ada mayat di Sungai Desa Rantau Asem,” ujar Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso.
Jasad Aiptu Sumaryanto ditemukan mengapung dalam kondisi wafat, berjarak sekitar empat kilometer dari lokasi titik awal penggerebekan. Jenazah korban langsung dievakuasi menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya.
Menyikapi penyerangan bersenjata terhadap aparat penegak hukum ini, Mabes Polri bersama unsur TNI memperketat pengamanan di wilayah hukum Katingan. Saat ini, operasi pengejaran skala besar masih terus digulirkan di lapangan untuk memburu para pelaku penyerangan serta anggota massa yang terlibat dalam aksi bersenjata tersebut. (Red)