
Tanggamus, Sinarlampung.co – Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Tanggamus melaksanakan kegiatan kinerja dosen melalui program pengabdian kepada masyarakat di Pesantren Baitul Qur’an Pringsewu. Kegiatan ini mengangkat tema “Membangun Literasi Keuangan Syariah Santri di Era Digital.”
Materi disampaikan langsung oleh Bina Buono, M.E. dan Dedi Wahyudi, M.E., yang menekankan pentingnya pemahaman keuangan syariah bagi generasi santri di tengah derasnya arus digitalisasi.
Dalam pemaparannya, Bina Buono menjelaskan bahwa era digital menghadirkan kemudahan luar biasa dalam aktivitas ekonomi. “Hari ini belanja cukup dengan satu klik, transfer hanya dengan scan QR, pinjam uang tinggal unduh aplikasi, bahkan investasi bisa dilakukan secara online. Namun pertanyaannya, apakah semuanya halal? Apakah sesuai prinsip syariah? Dan apakah kita memahami risikonya?” ujarnya di hadapan para santri.
Ia menegaskan bahwa kemudahan digital tanpa pemahaman yang baik dapat menjerumuskan generasi muda pada praktik keuangan yang merugikan, seperti pinjaman online ilegal, judi online, investasi bodong, hingga gaya hidup konsumtif akibat tren media sosial.
Dalam kegiatan tersebut dijelaskan bahwa literasi keuangan adalah kemampuan memahami serta menggunakan produk dan layanan keuangan secara bijak. Sementara literasi keuangan syariah menekankan pengelolaan harta berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan prinsip-prinsip syariah, yakni bebas dari riba, gharar (ketidakjelasan), dan maysir (judi).
Dedi Wahyudi menambahkan bahwa harta dalam Islam adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ia mengutip firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 9 tentang pentingnya tidak meninggalkan generasi yang lemah secara ekonomi, serta hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menyatakan bahwa manusia akan ditanya tentang asal-usul dan penggunaan hartanya.
“Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya, tetapi Islam mengatur cara memperolehnya. Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat kita terjebak dalam praktik riba dan transaksi yang tidak jelas,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi, para pemateri juga mengingatkan tentang larangan riba sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 275. Praktik riba dinilai tidak hanya memberatkan secara ekonomi, tetapi juga menghilangkan keberkahan dalam kehidupan.
Contoh konkret yang diangkat adalah penggunaan fitur paylater berbunga serta tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi tanpa risiko yang jelas. Menurut pemateri, keuntungan besar tanpa risiko patut dicurigai karena dalam prinsip syariah, semakin besar potensi keuntungan maka semakin besar pula risiko yang menyertainya.
Untuk membekali santri secara praktis, pemateri memperkenalkan prinsip 4M dalam pengelolaan keuangan, yaitu: mencari yang halal, mengelola dengan bijak, menabung, dan menyisihkan untuk sedekah.
Selain itu, santri juga diajak memahami urutan prioritas keuangan: memenuhi kebutuhan pokok, menyiapkan tabungan darurat, berinvestasi secara halal, serta menunaikan zakat dan sedekah.
Menurut Bina Buono, pesantren memiliki peran strategis bukan hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat penguatan ekonomi umat dan kewirausahaan syariah. “Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja berbasis ekonomi halal,” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian ini disambut antusias oleh para santri yang aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait fenomena keuangan digital yang mereka hadapi sehari-hari.
Melalui program ini, dosen STEBI Tanggamus berharap lahir generasi santri yang cerdas digital, cerdas finansial, dan tetap kuat secara spiritual. Generasi yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bijak dan sesuai prinsip syariah.
“Era digital adalah peluang sekaligus tantangan. Tanpa literasi, kita bisa terjerumus. Namun dengan literasi keuangan syariah, santri dapat menjadi pemimpin ekonomi umat di masa depan,” tutup Dedi Wahyudi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen STEBI Tanggamus dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi antara kampus dan pesantren dalam membangun ekonomi umat yang berlandaskan nilai-nilai Islam. ( Wisnu)