
Tanggamus, Sinarlampung.co — Ketika pemerintah masih berkutat dengan janji perbaikan infrastruktur, warga Pekon Wayliwok, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, memilih bergerak sendiri. Mereka turun ke Jalan Lintas Barat (Jalinbar) membawa semen, cangkul, dan rasa prihatin, menambal lubang-lubang besar yang telah lama mengintai nyawa para pengguna jalan.
Jalan utama yang seharusnya jadi urat nadi ekonomi itu kini lebih mirip kubangan jebakan. Hampir setiap hari, motor tergelincir, mobil oleng, dan warga was-was. Tak tahan dengan kondisi itu, masyarakat berinisiatif memperbaikinya secara swadaya bersama aparat pekon.
“Sudah terlalu sering ada korban. Lubangnya besar-besar, jadi kami sepakat tambal sendiri pakai semen seadanya. Daripada nunggu entah kapan diperbaiki,” ujar Misbahudin, Sekretaris Pekon Wayliwok, sambil menata campuran semen di salah satu titik jalan yang rusak, Kamis (17/10).
Aksi sederhana itu menjadi potret kepedulian nyata di tengah abainya pemerintah. Di media sosial, foto dan video warga yang menambal jalan ramai dibagikan, menuai pujian sekaligus sindiran tajam kepada pihak berwenang.
“Salut untuk warga. Ini bukti kepedulian yang sesungguhnya. Pemerintah harusnya malu, kok rakyat yang turun tangan?” ujar Eko, salah satu pengendara yang melintas.
Tak sedikit warga juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap proyek perbaikan jalan yang kerap menguras anggaran, namun kualitasnya tak sebanding. Jalan yang baru seumur jagung ditambal, kini kembali menganga.
“Anggarannya besar, tapi hasilnya rapuh dan buruk. Coba saja kalau dana perawatan diserahkan langsung ke desa yang dilintasi jalan provinsi atau nasional, pasti lebih cepat dan tepat,” kata seorang warga lainnya dengan nada kesal.
Lebih ironis lagi, ketika masyarakat bersuara soal jalan rusak, bukan perbaikan yang datang melainkan tekanan.
“Giliran rakyat kritik, malah diintimidasi. Padahal yang rusak bukan cuma jalan, tapi nurani pemerintah,” ujarnya getir.
Pantauan di lapangan menunjukkan, lubang-lubang besar tersebar di sepanjang Jalinbar Tanggamus, termasuk di pusat kota kabupaten. Beberapa ruas bahkan baru diperbaiki sebulan lalu oleh kontraktor, namun kini kembali hancur.
Di tengah ketidakpedulian yang kian menebal, langkah warga Wayliwok menjadi bukti, semangat gotong royong belum mati, meski aspal di jalan mereka sudah lama berlubang, nurani masih bisa bekerja bahkan tanpa proyek. (Wisnu)