
Tanggamus, Sinarlampung.co – Derasnya hujan pada Jum’at (29/8) dini hari membuat Sungai Belu meluap dan merendam rumah warga serta sekolah di Pekon Belu, Kabupaten Tanggamus. Bencana yang sudah berulang kali melanda wilayah ini kembali menelanjangi lemahnya respons pemerintah daerah. Hingga kini, belum ada langkah nyata dari Pemda untuk menanggulangi banjir lanjutan maupun memberikan bantuan kepada warga terdampak.
Jonlie, Kepala Pekon Belu, tak kuasa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menuding pemerintah daerah seakan tutup mata terhadap derita warganya.
“Pekon kami sudah jadi langganan banjir, terutama di Dusun Belu Tuha, Sukajadi, dan Kampung Bayur. Penyebabnya jelas, pendangkalan sungai Belu. Kami sudah berkali-kali ajukan proposal lewat kecamatan dan BPBD, tapi sampai sekarang tak ada tindak lanjut. Jelas ini seperti pembiaran,” tegasnya.
Ia menambahkan, warga mendesak agar Bupati Tanggamus H. Mohammad Saleh Asnawi segera turun tangan, bukan hanya sekadar menunggu laporan di meja kerja.
“Kami butuh langkah nyata. Normalisasi sungai, penanggulan, pembersihan sekolah yang masih tertimbun lumpur. Kalau tidak, penderitaan warga hanya akan terus berulang,” katanya.
Nada serupa datang dari Nasrudin, warga Pekon Belu yang rumahnya ikut terendam. Ia mengaku mengalami kerugian besar, mulai dari rusaknya perabot hingga trauma psikologis.
“Rumah saya yang posisinya cukup tinggi saja bisa terendam setengah meter. Semua barang, mulai dari elektronik, pakaian, sampai bahan makanan rusak. Di sekolah, anak-anak terpaksa menjemur buku-buku pelajaran mereka. Bayangkan, bagaimana mereka mau belajar?” keluhnya.
Ketakutan pun menghantui warga setiap kali langit mulai mendung.
“Air sungai sudah sejajar dengan daratan. Begitu hujan turun, kami langsung was-was. Tolong pemerintah jangan cuma janji manis, tapi segera turun ke lapangan,” desaknya.
Lebih ironis lagi, salah seorang aparatur Pekon Belu menilai pemerintah tebang pilih dalam penanganan banjir. Menurutnya, pasca banjir pertama, alat berat sempat diturunkan untuk membuat tanggul, namun hanya di sisi tertentu dan Pekon Belu justru terabaikan.
“BPBD jangan pilih kasih. Masa Pekon kami dilewati dalam pembangunan tanggul? Kami juga minta Damkar bantu bersihkan SDN 1 Belu. Kalau tidak, anak-anak bisa sepekan tak sekolah,” ucapnya dengan nada kecewa.
Sementara itu, pihak kecamatan maupun BPBD belum memberikan tanggapan resmi. Ironisnya, di tengah jeritan warga yang rumah dan sekolahnya terendam lumpur, Pemda Tanggamus justru tengah disibukkan dengan agenda Color Run 2025. (Wisnu)