
Majalengka, sinarlampung.co – Ratusan pelajar menampilkan pertunjukan kolosal Kemilau Nusantara pada peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan GGM Majalengka, Minggu (17/8/2025).
Garapan yang memadukan tari, musik, dan karawitan ini disutradarai Hegar Parangina bersama penata tari Meisi Dwiyanti Keduanya merupakan pengajar di SMPN 3 Majalengka sekaligus pembina Sanggar Panghegar.
Pertunjukan berdurasi sepuluh menit tersebut melibatkan 100 penari dan pemusik. Mereka berasal dari SMPN 3 Majalengka, SMKN 10 Bandung jurusan Tari, dan SMKN 1 Sumedang jurusan Karawitan. Penampilan digelar usai upacara bendera yang dipimpin langsung Bupati Majalengka.
“Kemilau Nusantara adalah wujud cinta pada Ibu Pertiwi. Melalui kolaborasi lintas daerah dan generasi, kami ingin menunjukkan bahwa seni tradisi tetap hidup sekaligus relevan dengan zaman,” ujar Hegar kepada sinarlampung.co.
Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kebudayaan. “Pelestarian tidak harus dalam bentuk besar. Cukup dimulai dari rasa cinta, bangga, dan kemauan untuk belajar. Semoga anak muda bisa menjaga tradisi dengan hati, tapi juga berani berkreasi agar budaya kita bisa berbicara di tingkat nasional maupun dunia,” tegasnya.
Suara Generasi Z
Tiga pelajar yang ikut tampil mengaku bangga bisa berpartisipasi. Maura Melodia Ibanezty, siswi SMKN 10 Bandung, menyebut persiapan dilakukan sejak 12–15 Agustus. “Senang sekali bisa memeriahkan HUT RI ke-80. Harapan saya, Gen Z terus menjaga solidaritas dan memperjuangkan persatuan Indonesia,” katanya.
Asep, siswa SMKN 1 Sumedang, menilai kolaborasi musik tradisional, modern, dan tari menjadi pengalaman berharga. “Kadang capek, tapi seru karena belajar menyatukan perbedaan. Bangga bisa tampil di depan Pak Bupati dan ribuan penonton,” ujarnya.
Sementara itu, Aldi Firmansyah dari SMPN 3 Majalengka mengaku mendapat pelajaran penting soal kolaborasi. “Tantangannya menyatukan musik dan tari. Tapi hasilnya indah. Saya jadi lebih percaya diri untuk terus berkarya,” ungkapnya.
Aldi berharap generasi muda tidak melupakan akar budaya di tengah gempuran modernisasi. “Lewat seni, kita bisa menunjukkan bahwa anak muda bukan hanya melek teknologi, tapi juga mampu menjaga jati diri bangsa,” pungkasnya. (Heny)