
Bandarlampung (SL)-Polda Lampung melakuka kordinasi dengan TNI-AL terkait penangkapan dua kapal tangker bermuatan sekitar 800 Ton BBN ilegal di Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, pada Kamis (24/5/2018) lalu. Kasus itu masih di proses di Koarmabar TNI-AL. Polda Lampung mencurigai ada oknum Polisi terlibat didalamnya.
Wakapolda Lampung Brigjen Angesta Romano Yoyol mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan TNI Angkatan Laut melalui Pangkalan TNI AL (Lanal) Panjang Lampung untuk mengetahui terkait keterlibatan anggotanya dalam kegiatan ilegal tersebut. “Silakan nanti kalau Lanal membuktikan benar, tapi kalau ada aparat yang terlibat silakan sampaikan ke kami,” kata Jenderal bintang satu yang akrab disapa Yoyol.
Menurut dia, hal yang mustahil jika Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Lampung tidak mengetahui adanya kegiatan bongkar muat BBM ilegal di atas kapal MT Jaya Mukti 1 dan MT Kallyse di Perairan Mutun, Teluk Lampung.
“Menurut berita yang saya baca itu lokasi penangkapan di Pantai Mutun, dan dalam proses pengumpulan selama memakan waktu 10 hari. Jadi enggak mungkin polisi enggak tahu,” katanya, Senin (28/5/2018).
Wakapolda menambahkan, Polri dan TNI AL sama-sama memiliki kewenangan untuk menyelidiki kegiatan BBM ilegal di Teluk Lampung. “Untuk BBM, saya sampaikan maupun polisi dan Lanal itu mempunyai wewenangnya masing-masing. Masalah penyelidikan juga bisa diambil langsung oleh Lanal,” ujarnya.
Yoyol berharap TNI AL bisa mengungkap siapa aktor utama kegiatan BBM ilegal di perairan Teluk Lampung. “Polda dan TNI AL, Kita tetap akan ada komunikasi untuk mengusut kasus ini,” tutupnya.
Diketahui, Satuan Patroli (Satrol) Lantamal mengamankan dua kapal tanker bermuatan BBM ilegal di Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.
Penangkapan terjadi pada Kamis (24/5/2018) pukul 23.30 WIB. Ketika dilakukan pemeriksaan, kapal bermuatan BBM jenis solar yang masing-masing 600 ton dan 200 ton itu tidak dilengkapi dokumen resmi muatan.
Kapal saat ini sudah bersandar di Dermaga Pondong Dayung, Tanjung Priok, Jakarta. Nakhoda beserta 23 anak buah kapal (ABK) masih diamankan, sementara bahan bakarnya akan diserahkan ke Migas. (nt/*/jun)