
Lampungtimur, sinarlampung.co – Pembangunan tanggul pembatas sepanjang 138 kilometer yang memisahkan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan lahan pemukiman warga di Kabupaten Lampung Timur menyisakan pertanyaan terkait ketahanan bangunan. Proyek senilai Rp850 miliar yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang dalam meminimalisasi konflik satwa gajah liar dengan masyarakat tersebut kini disorot akibat material dan mekanisme konstruksinya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan pada awal Oktober 2026, sejumlah titik pengerjaan konstruksi tanggul setinggi dan selebar kira-kira empat meter itu dinilai rentan terpengaruh cuaca ekstrem.
Salah satu temuan utama adalah penggunaan lumpur rawa kering (endut) sebagai material timbunan utama badan tanggul hingga ketinggian 3,5 meter sebelum dilapisi tanah liat. Penggunaan material lumpur dikhawatirkan berpotensi menurunkan kestabilan tanggul saat curah hujan tinggi dan debit air meningkat.
Panel Beton Miring dan Konstruksi Jembatan Darurat
Selain timbunan lumpur kering, kekhawatiran juga mengemuka pada pemasangan panel beton berukuran 4 x 1 meter dengan bobot sekitar 1,4 ton di sisi miring tanggul yang menghadap kawasan hutan. Panel miring sekitar 60 derajat tersebut hanya ditahan oleh dua patok kayu gelam yang ditanam pada badan tanggul, dengan bagian bawah bertumpu pada dasar tanah yang berlumpur. Kestabilan panel terancam bila debit air meluap dan melunakkan struktur tanah pakan panel.
Di sisi lain, beberapa titik jembatan penyeberangan di jalur tanggul—seperti di wilayah Spontan, Brajaharjosari, Kecamatan Braja Selebah—tampak hanya memanfaatkan tiga drum besar berdiameter empat meter yang disokong susunan karung plastik berisi tanah. Jembatan berbentuk melengkung ini memiliki ruang lintas yang terbatas dan tidak dirancang untuk kendaraan roda empat.
Guna memperketat penghalang, tanggul ini juga dilengkapi pagar empat jalur kawat seling setebal ibu jari orang dewasa yang ditopang tiang besi setinggi dua meter.
Meski keberadaan tanggul kini mulai dimanfaatkan warga lokal sebagai sarana olahraga seperti bersepeda dan jogging di akhir pekan, ketahanan jangka panjang bangunan penahan gajah ini tetap menjadi pertimbangan utama agar investasi ratusan miliar rupiah tersebut tidak sia-sia. (Red)