
Jakarta, sinarlampung.co – Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mengalami penurunan tajam pada tahun kedua masa jabatannya, 20 Oktober 2026.
Hasil kajian agregat PT Markdata Riset Indonesia terhadap 57 rilis survei nasional dari 30 lembaga menunjukkan rata-rata kepuasan publik di kalangan lembaga survei anggota Persepi merosot dari 79,2% (Oktober–Desember 2025) menjadi 54,4% (Juli–September 2026).
Jika memperhitungkan seluruh survei probabilitas nasional (termasuk lembaga di luar Persepi), tingkat kepuasan tercatat tergerus dari 80,4% menjadi 63,1% (turun 17 poin).
“Dua tahun pemerintahan ini terbelah menjadi dua cerita. Tahun pertama adalah masa bulan madu dengan kepuasan di atas 80 persen. Tahun kedua, dukungan itu terkikis sekitar 25 poin, dan penyebab utamanya bukan politik, melainkan harga kebutuhan pokok,” ungkap Faisal Arief Kamil, Direktur Eksekutif Markdata.
Dua Fase Utama Penurunan
Kajian Markdata mengidentifikasi dua fase gelombang penurunan kepuasan masyarakat sepanjang tahun 2026:
Fase Pertama (Februari–Maret 2026): Dipicu gejolak pasar modal dan lonjakan inflasi nasional hingga 4,76%. Pada periode ini, SMRC mencatat penurunan kepuasan dari 81,2% menjadi 66,4%.
Fase Kedua (Mei–Agustus 2026): Disebabkan oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi, kelangkaan LPG 3 kg, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Survei SMRC periode 1–10 Oktober 2026 mencatat kepuasan berada di angka 44,5%—pertama kalinya menembus di bawah 50%.
Paradoks Makroekonomi vs Realita Rumah Tangga
Penurunan kepercayaan publik terjadi di tengah indikator makroekonomi yang sejatinya mencatatkan performa positif:
Pertumbuhan PDB: 5,61% (Triwulan I-2026) dan 5,29% (Triwulan II-2026).
Tingkat Kemiskinan: Turun ke angka 8,07% per Maret 2026 (terendah dalam sejarah pencatatan BPS).
Pengangguran Terbuka: Berada di level 4,68%.
Namun, kondisi sektor riil yang dirasakan masyarakat justru berbanding terbalik:
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia turun dari 127,7 ke 118,1.
Inflasi kembali melonjak di atas 3% sejak Mei 2026.
Rupiah melemah 11% hingga menyentuh Rp17.938 per dolar AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 35% dari rekor resminya.
“PDB dan angka kemiskinan adalah agregat nasional. Warga merasakan ekonomi dari harga beras, BBM, LPG, cicilan, dan kesempatan kerja—pada 2026 keempatnya memburuk bersamaan,” jelas Faisal.
Kajian Markdata juga menemukan rentang hasil antar-lembaga survei yang kian melebar dari 9 poin pada awal 2025 menjadi 44 poin pada periode Juli–September 2026 (berkisar antara 37% oleh Tempo Data Science hingga 80,7% oleh LKPI). Sementara itu, lembaga anggota Persepi seperti SMRC dan Arus Survei Indonesia melaporkan angka kepuasan relatif konsisten di rentang 51,1–57,6%.
Faisal mengimbau publik untuk mencermati metodologi, penyusunan kuesioner, serta moda wawancara. Pembaca disarankan membandingkan tren pada satu lembaga ketimbang membandingkan angka mutlak antar-lembaga secara langsung. (Red)