
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung mencatat 314 kasus Influenza-Like Illness (ILI) atau penyakit yang menunjukkan gejala mirip influenza sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-37 tahun 2026.
Dari ratusan kasus tersebut, sebanyak 183 spesimen telah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Palembang untuk diperiksa.
Hasil pemeriksaan menunjukkan 10 spesimen dinyatakan positif influenza. Rinciannya, empat spesimen positif influenza H1 pdm09 dan enam lainnya positif influenza H3.
Sementara itu, sebanyak 30 spesimen masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung menyebut ILI merupakan infeksi saluran pernapasan atas yang menunjukkan gejala menyerupai flu dan dapat menular.
“Gejala yang umum muncul antara lain demam tinggi dengan suhu minimal 38,5 derajat Celsius, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala serta kelelahan atau rasa lelah berlebihan,” kata Muhtadi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/9/2026).
Selain berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, Dinkes juga mencatat laporan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
Dari minggu pertama hingga minggu ke-37 tahun 2026, tercatat 314 kasus ILI dalam sistem tersebut.
Sementara dari Puskesmas Sentinel ILI, yakni Puskesmas Sumur Batu, tercatat 214 kasus.
Data mingguan menunjukkan jumlah kasus bergerak fluktuatif. Dalam periode tersebut terdapat dua periode peningkatan yang cukup menonjol.
Puncak tertinggi terjadi pada minggu ke-32 dengan 21 kasus. Setelah itu, jumlah kasus berangsur turun hingga menjadi lima kasus pada minggu ke-37.
Meski terjadi penurunan, Dinkes mengingatkan kondisi tersebut tetap perlu dipantau.
“Hal yang paling penting untuk diantisipasi adalah kemungkinan kenaikan kembali setelah periode penurunan, sehingga surveilans mingguan perlu tetap aktif,” kata Muhtadi.
Menurutnya, terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, mulai dari kemungkinan peningkatan kasus, penularan influenza yang masih berlangsung hingga perubahan gambaran epidemiologi setelah hasil 30 spesimen yang masih tertunda diterima.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinkes menyiapkan sejumlah langkah.
Pertama, memperkuat surveilans mingguan dengan melakukan validasi angka kasus dan membandingkan jumlah kasus pada minggu berjalan dengan beberapa minggu sebelumnya.
Dinkes juga akan memberi perhatian khusus jika terjadi kenaikan kasus selama dua minggu berturut-turut.
Jumlah kasus juga akan segera ditandai apabila mendekati atau melampaui puncak sebelumnya, yakni 21 kasus dalam satu minggu.
Langkah berikutnya adalah memperkuat pengendalian penularan melalui promosi kesehatan.
Masyarakat dan petugas kesehatan diingatkan menerapkan etika batuk dan bersin. Penggunaan masker juga didorong bagi orang yang mengalami gejala pernapasan, terutama ketika berada di ruang tertutup atau fasilitas pelayanan kesehatan.
Orang yang mengalami gejala juga dianjurkan mengurangi kontak dekat dengan orang lain.
Selain itu, Dinkes mendorong perbaikan ventilasi dan pengurangan kepadatan di ruang pelayanan serta memastikan kebersihan tangan dan permukaan yang sering disentuh.
Dari sisi fasilitas kesehatan, Dinkes meminta adanya alur triase bagi pasien dengan gejala ILI serta pemantauan kunjungan pasien ILI setiap minggu.
Petugas juga diminta segera melaporkan apabila ditemukan peningkatan kasus maupun klaster.
Jika terjadi lonjakan kunjungan, pasien dengan gejala pernapasan dapat dipisahkan atau diprioritaskan dalam pelayanan.
“Dinkes juga menyiapkan mekanisme komunikasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, laboratorium dan pengelola SKDR agar perkembangan kasus dapat dipantau secara berkala,” pungkas Muhtadi. (Tam)