
Pesawaran, sinarlampung.co – Ketika malam mulai menyelimuti puncak Gunung Bundar di Dusun Pujoraharjo, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung, cahaya lampu mulai berpijar dari rumah-rumah warga. Aktivitas malam berjalan seperti biasa: anak-anak mulai belajar, warga berbincang di ruang keluarga, dan telepon seluler diisi daya.
Namun, gemerlap cahaya yang menerangi dusun di ketinggian ini sama sekali bukan berasal dari jaringan listrik negara (PLN). Hingga tahun 2026, dusun yang dihuni oleh 104 kepala keluarga (KK) atau sekitar 334 jiwa tersebut tercatat belum pernah tersentuh aliran listrik resmi dari pemerintah.
Di tengah keterbatasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun, warga memilih berdikari membangun sumber energi secara swadaya. Sebagian kelompok warga memanfaatkan turbin mikrohidro (pembangkit listrik skala kecil memanfaatkan aliran air) yang digerakkan oleh sungai pegunungan. Sementara sebagian warga lainnya memilih memasang panel surya (solar panel) di atap rumah masing-masing demi mengusir kegelapan.
Salah seorang warga Dusun Pujoraharjo, Turyanto, menuturkan bahwa kebutuhan akan daya listrik kini sudah menjadi kebutuhan primer yang tidak bisa ditawar lagi seiring pesatnya perkembangan teknologi.
“Sekarang zamannya sudah maju. Ada ponsel yang butuh setrum, kita juga butuh penerangan. Kalau masih bertahan pakai lampu sentir (minyak tanah) seperti dulu, rasanya sudah tidak mungkin lagi,” ujar Turyanto, dilansir dari Kompas.com, Rabu 15 Juli 2026.
Keinginan mencicipi energi listrik mulai bergejolak setelah warga melihat kesuksesan kampung tetangga yang berhasil merakit pembangkit listrik mikrohidro mandiri. Berbekal pengalaman empiris tersebut, warga Pujoraharjo mulai belajar dan nekat membangun turbin mikrohidro pertama mereka secara gotong royong pada tahun 2012 silam.
Saat ini, telah berdiri empat unit turbin mikrohidro di dusun tersebut. Setiap turbin rata-rata mampu memasok daya listrik terbatas untuk 11 hingga 15 kepala keluarga.
Mendirikan satu unit infrastruktur mikrohidro rupanya menuntut biaya yang tidak sedikit untuk ukuran masyarakat petani gunung. Turyanto mengungkapkan, warga harus patungan mengumpulkan modal hingga kisaran Rp20 juta per kelompok.
“Kalau satu kelompok diisi 10 orang, ya kami patungan bersama untuk beli alat dan membangun turbin itu. Ada yang menyumbang Rp5 juta sampai Rp10 juta, tergantung kemampuan dan kebutuhan,” kata Turyanto.
Beban tidak berhenti di modal awal. Setelah turbin beroperasi, warga rutin ditarik iuran perawatan sebesar Rp20.000 per bulan. Mereka juga wajib bergiliran membersihkan saluran air setiap hari dari sampah daun. Jika musim hujan tiba, tantangan kian berat karena paralon penyalur air kerap pecah akibat tertimpa batang kayu yang longsor.
Kelemahan fatal sistem ini adalah stabilitas daya. Pembangkit listrik ini sangat bergantung pada debit air sungai pegunungan. Ketika musim kemarau datang dan debit air menyusut, beberapa rumah terpaksa harus rela mengalami pemadaman total.
Beralih ke Tenaga Surya
Bagi warga yang posisi rumahnya tidak terjangkau oleh bentangan kabel turbin mikrohidro, panel tenaga surya menjadi jalan pintas alternatif terbaik.
Taram, salah satu sesepuh dusun yang bermukim di Pujoraharjo sejak tahun 1977, menceritakan bahwa tren pemanfaatan panel surya di dusunnya mulai menjamur dalam satu dekade terakhir. Langkah ini diambil karena kapasitas kincir air sudah kelebihan beban, ditambah letak sungai yang terlampau jauh dari sebagian rumah warga.
Untuk memasang satu paket panel surya mandiri, warga musti merogoh kocek berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Anggaran ini belum termasuk biaya perawatan berkala untuk mengganti aki penampung daya yang umumnya hanya bertahan selama satu tahun.
Sama halnya dengan mikrohidro, sistem panel surya ini memiliki ketergantungan penuh terhadap faktor alam dan cuaca. “Dibilang cukup ya cukup, dibilang tidak ya kalau cuaca mendung atau hujan berhari-hari pasti mati karena pasokan matahari kurang. Daya dari panel surya ini juga hanya kuat untuk menyalakan lampu dan mengisi daya baterai ponsel saja,” keluh Taram.
Menanti Janji Manis Listrik Negara
Kepala Dusun Pujoraharjo, Maryadi, sangat berharap jaringan kabel PLN suatu hari nanti dapat menembus dan menjangkau wilayahnya. Menurutnya, pasokan listrik swadaya yang dikelola warga saat ini hanya mampu menyokong kebutuhan dasar yang sangat minimalis.
“Harapan terbesar kami adalah listrik PLN bisa segera masuk ke sini. Listrik mandiri dari turbin itu dayanya sangat kecil, tidak kuat untuk menyalakan peralatan elektronik rumah tangga lainnya seperti televisi atau kulkas,” kata Maryadi.
Maryadi memaparkan, Dusun Pujoraharjo sebenarnya sudah mulai dirintis dan dihuni oleh masyarakat sejak rentang tahun 1968 hingga awal 1970-an. Sangat miris, meski usia dusun tersebut sudah berdiri lebih dari setengah abad, hak dasar warga untuk menikmati listrik negara seolah terlupakan.
Di tengah ketidakpastian penantian tersebut, warga Pujoraharjo terus bahu-membahu merawat sisa-sisa turbin air dan panel surya mereka. Gotong royong menjadi satu-satunya bahan bakar agar cahaya kehidupan di puncak Gunung Bundar tidak redup ditelan malam. (kompas/Red)