
Oleh: Majid Lintang
𝑬𝒑𝒊𝒔𝒐𝒅𝒆 7: 𝔻𝕚𝕤𝕜𝕠𝕟 𝔹𝕖𝕤𝕒𝕣 𝕕𝕒𝕟 ℍ𝕒𝕣𝕘𝕒 𝕂𝕖𝕔𝕚𝕝 𝕋𝕦𝕝𝕚𝕤𝕒𝕟𝕟𝕪𝕒
Pagi itu kedai kopi mendadak penuh warna. Di depan pintu, Kang Maman memasang spanduk merah menyala bertuliskan besar:
DISKON 70%
Tulisan itu begitu besar sampai menutupi jendela sebelah kiri.
Bang Udin datang sambil hampir menabrak spanduk.
“Kang! Gila! Kedai bangkrut ya?”
“Kenapa bangkrut?”
“Kalau diskon segitu, tinggal untung doa.”
Kang Maman tersenyum licik. “Ini strategi pemasaran.”
Tak lama kemudian pelanggan berdatangan lebih ramai dari biasanya. Beberapa langsung duduk, beberapa memotret spanduk, beberapa memesan dua gelas sekaligus.
Bang Udin kagum. “Hebat juga. Tulisan besar memang berpengaruh.”
Muncul Uda Amar mendorong gerobak, menatap keramaian dengan iri profesional.
“Ada apa ini?”
“Diskon 70%,” jawab Bang Udin.
Uda Amar menyipit. “Tak mungkin dia sebaik itu.”
Ia mendekat ke spanduk, lalu menunduk, menyipit lagi, lalu jongkok.
Di pojok kanan bawah, ada tulisan kecil sekali: untuk pembelian stiker logo kedai ukuran 2 cm
Uda Amar tertawa sampai batuk.
“Saya tahu! Ini diskon tipu-tipu.”
“Bukan tipu-tipu,” bantah Kang Maman. “Semua tertulis jelas.”
“Jelas untuk semut,” kata Uda Amar.
Pelanggan yang mendengar mulai ribut.
“Lho, kopi tidak diskon?”
“Tidak,” jawab Kang Maman tenang. “Tapi semangat belanjanya tetap diskon.”
Seorang bapak protes, “Saya datang jauh-jauh!”
Kang Maman cepat menjawab, “Silakan beli stiker. Hemat sekali.”
Bang Udin mengambil satu stiker mungil.
“Kalau ditempel di motor, orang lihat?”
“Kalau dekat sekali,” jawab Uda Amar.
Televisi di pojok kebetulan menyiarkan berita soal promo belanja daring. Kang Maman langsung menunjuk layar.
“Nah! Semua bisnis pakai strategi promo.”
Uda Amar mendengus. “Promo itu baik kalau jujur.”
“Saya jujur.”
“Kalau begitu tulis besar-besar syaratnya.”
“Kalau syaratnya besar, yang datang kecil.”
Bang Udin mengangguk kagum walau tak paham.
Melihat keramaian, Uda Amar bergerak cepat. Ia memasang kardus di gerobaknya:
BELI 1 GRATIS 1
Orang-orang langsung mendekat.
Kang Maman melotot. “Kau ikut-ikutan!”
Uda Amar santai. “Belajar dari suhu.”
Seorang pelanggan membeli satu bakwan.
“Gratis satunya mana?”
Uda Amar menunjuk bakwan lain.
“Gratis… kalau beli satu lagi.”
Kerumunan hening dua detik, lalu tertawa keras.
Kang Maman bertepuk tangan. “Murid melampaui guru.”
Bang Udin panik sendiri. “Jadi gratisnya bayar?”
“Namanya motivasi pembelian,” jawab Uda Amar.
Menjelang siang, kedai kembali normal. Kang Maman menghitung uang hasil jualan, Uda Amar juga menghitung recehan dengan wajah puas.
Bang Udin melihat dua-duanya.
“Berarti promo berhasil ya?”
Kang Maman mengangguk. “Ramai.”
Uda Amar mengangguk. “Laris.”
Bang Udin tersenyum polos. “Kalau begitu besok saya juga promo jual koran.”
“Apa promonya?” tanya mereka bersamaan.
Bang Udin berpikir sebentar.
“Beli koran hari ini…”
“Lalu?”
“…dapat berita kemarin.”
Uda Amar menepuk jidat.
Kang Maman menatap kosong ke kejauhan.
“Din, kadang saya takut masa depan.” (*)