
Tulang Bawang Barat, sinarlampung.co – Aksi penjarahan aset negara berupa infrastruktur talang besi baja irigasi di Tiyuh Kagungan Ratu, Kecamatan Tulang Bawang Udik, akhirnya memasuki babak baru. Tim gabungan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji-Sekampung, Sat Reskrim Polres Tulang Bawang Barat (Tubaba), dan Kodim setempat resmi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), Selasa 28 April 2026.
Aset Negara Era Soeharto Dijarah Terang-terangan di Tubaba, Aparat dan Balai Besar Diduga Tutup Mata
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, kerusakan infrastruktur peninggalan era transmigrasi tersebut mencapai 300 meter lebih. Total material besi baja yang diperkirakan raib mencapai 58 ton.
Warga di lokasi mengungkapkan bahwa para pelaku beraksi secara terbuka dan terorganisir. Sejak Januari 2026, kelompok orang tak dikenal terlihat membongkar plat besi berdiameter lebar menggunakan alat las dan mengangkutnya menggunakan truk.
“Sudah diukur oleh tim yang datang. Ada sekitar 300-an meter yang hilang, total 58 ton yang dijual. Warga resah karena takut dikira terlibat, padahal yang membongkar itu orang asing pakai las,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Ketua LSM Hantam Lampung, Nasir, memberikan reaksi keras atas lambannya respons otoritas sebelumnya. Ia mencurigai adanya praktik terorganisir dan pembiaran dalam penjarahan aset strategis di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini.
“Ini murni tindak pidana penjarahan aset negara. Aparat tidak boleh hanya menangkap pelaku lapangan. Bongkar siapa yang menyuruh, siapa yang membiayai, dan siapa yang menikmati hasilnya!” tegas Nasir.
Nasir juga menantang BBWS-MS untuk transparan. Jika tidak ada dokumen legalitas pembongkaran, maka aparat penegak hukum harus bertindak tanpa kompromi.
Dengan turunnya tim gabungan ke lokasi kemarin, diharapkan proses pelaporan formal segera rampung sehingga kepolisian dapat melakukan pengejaran terhadap para penadah dan aktor di balik hilangnya puluhan ton besi baja tersebut.
Penjarahan ini tidak hanya merugikan negara secara finansial, tetapi juga mengancam keberlangsungan sistem irigasi di Tulang Bawang Barat. Kerusakan pada talang air sepanjang 300 meter ini berpotensi memutus distribusi air ke lahan-lahan pertanian warga yang selama puluhan tahun bergantung pada infrastruktur tersebut. (Red)