
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Bandar Lampung sejak Selasa 14 April 2026 sore hingga malam hari memicu bencana banjir bandang di 21 titik. Musibah ini merenggut satu korban jiwa dan melumpuhkan aktivitas di wilayah yang dijuluki “Kota Tapis Berseri” tersebut.
Kabar duka datang dari Kelurahan Garuntang, Kecamatan Bumi Waras. Seorang warga bernama Dewi Maelani (34), yang juga diketahui sebagai kader Puskeskel, ditemukan meninggal dunia setelah terjebak di dalam rumahnya saat banjir bandang menerjang.
Camat Bumi Waras, Budi Ardiyanto, menjelaskan bahwa rumah korban berada tepat di dekat sungai. Hujan deras memicu debit air meningkat drastis hingga menjebol tanggul pembatas setinggi 3 meter.
“Air meluncur deras ke permukiman setelah tanggul jebol. Korban saat itu sedang berada di rumah bersama keluarga, namun ia tidak sempat menyelamatkan diri ke lantai atas,” ujar Budi pada Selasa malam.
Suami korban dikabarkan sempat berupaya memegang tangan istrinya untuk menolong, namun kuatnya arus air bandang membuat pegangan tersebut terlepas.
Di tengah kepungan banjir, aksi heroik dilakukan petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandar Lampung. Sekitar pukul 20.00 WIB, petugas terpaksa mengevakuasi seorang lansia yang terjebak di dalam rumahnya di Jalan Dr. Sutomo, Gang Jangkung, Kecamatan Kedaton.
Proses evakuasi berlangsung dramatis; petugas harus menggendong lansia tersebut menerjang genangan air yang terus naik demi membawanya ke tempat yang lebih aman. Wilayah Kedaton sendiri dilaporkan sebagai salah satu titik terparah dengan ketinggian air mencapai pinggang hingga dada orang dewasa, merendam perabotan, dan melumpuhkan aktivitas warga.
21 Titik Banjir dan Kota yang Lumpuh
Berdasarkan data sementara dari BPBD Provinsi Lampung, hujan yang mulai mengguyur sejak pukul 17.00 WIB menyebabkan genangan dengan ketinggian bervariasi, mulai dari setinggi lutut hingga mencapai dada orang dewasa.
Berikut adalah beberapa wilayah terdampak parah menurut sebaran data BPBD:
Kawasan Pendidikan & Medis: RSUD Abdoel Moeloek, Kampus UIN Raden Intan Sukarame, dan Unila.
Jalan Protokol: Jalan Kartini, Jalan Raden Intan, dan Jalan Sultan Agung mengalami gangguan lalu lintas signifikan.
Permukiman Padat: Jagabaya I & II (ketinggian mencapai dada), Kaliawi, Way Halim, Kedaton, Rajabasa, hingga Sukabumi.
Analisis Bencana BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, menyatakan bahwa meskipun di beberapa titik air mulai surut pada tengah malam, pendataan dampak kerusakan dan kerugian material masih terus dilakukan oleh tim di lapangan.
Bencana ini kembali memicu gelombang kritik dari masyarakat terhadap infrastruktur drainase kota. Warga menilai penanganan banjir di Bandar Lampung belum menyentuh akar permasalahan, mengingat wilayah seperti Kedaton dan Jagabaya selalu menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras melanda lebih dari dua jam.
“Ini bukan hal baru, tapi kali ini sangat parah sampai ada korban jiwa. Kami butuh langkah strategis dari pemerintah kota, bukan sekadar janji atau penanganan darurat,” tegas Novi, salah satu warga terdampak.
Pihak BPBD Provinsi Lampung mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan. Warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai diminta untuk segera melakukan evakuasi mandiri jika melihat debit air mulai melewati batas normal guna menghindari jatuhnya korban jiwa susulan. (Red)