
PESAWARAN, sinarlampung.co– Niat mulia memperkuat konektivitas antar-pulau melalui hibah Kapal Banawa Nusantara kini berujung ironi. Bukannya menjadi penunjang wisata, satu unit kapal bantuan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tersebut justru tenggelam dan terbengkalai di Dermaga 4 Ketapang, Desa Batu Menyan, Kabupaten Pesawaran.
Kondisi kapal yang nyaris karam ini dilaporkan telah berlangsung selama satu bulan terakhir tanpa ada tindakan konkret dari instansi terkait. Keberadaannya kini dikeluhkan warga karena mengganggu estetika kawasan wisata dan menghambat akses sandar perahu nelayan maupun kapal wisata.
Kepala Desa Batu Menyan, Syahruji, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendeteksi kondisi kapal yang mulai miring sejak kapal tersebut masih berada di tengah perairan. Namun, respons yang diberikan dinilai tidak tuntas.
”Awalnya kapal miring di tengah, lalu setelah dilaporkan, hanya dipindahkan ke pinggir dermaga dan diikat. Karena dibiarkan terlalu lama tanpa perbaikan, akhirnya kapal tenggelam di lokasi sandar,” jelas Syahruji, Senin 23 Maret 2026.
Ia menyatakan bahwa posisi kapal saat ini sangat mengganggu aktivitas ekonomi warga. Syahruji mendesak pemerintah kabupaten maupun provinsi untuk segera mengevakuasi kapal tersebut ke darat.
Aset Negara yang Menjadi Sampah Visual
Kapal Banawa Nusantara sejatinya dirancang sebagai kapal pelayaran rakyat (Pelra) untuk distribusi logistik dan transportasi penumpang antar-pulau kecil. Namun, pemandangan di Dermaga Ketapang saat ini justru menunjukkan kegagalan manajemen aset.
Terbengkalainya kapal ini memicu pertanyaan besar mengenai tanggung jawab pengelolaan pasca-hibah. Ketidakjelasan siapa yang harus mendanai perawatan—apakah pemerintah pusat selaku pemberi atau daerah selaku penerima—seringkali menjadi alasan klasik mangkraknya alat transportasi bantuan.
Dampak pada Sektor Wisata
Dermaga Ketapang merupakan salah satu pintu masuk utama menuju destinasi wisata populer seperti Pulau Pahawang dan Kelagian. Keberadaan bangkai kapal yang tenggelam tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga berisiko membahayakan keselamatan pelayaran di area dermaga yang sempit.
Hingga berita ini dirilis, Dinas Perhubungan terkait belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana pengangkatan atau perbaikan kapal tersebut. Masyarakat berharap pemerintah tidak saling lempar tanggung jawab dan segera membersihkan area dermaga dari bangkai kapal sebelum kerusakan kian parah dan biaya evakuasi membengkak. (Red)