
PRINGSEWU, sinarlampung.co-Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Pringsewu menyusul tewasnya Aisyah Aqila Fazila Yusyah (12), atau akrab disapa Zie, siswi kelas VI SD Negeri 1 Margakarya, Kecamatan Pardasuka.
Zie meninggal dunia pada 23 November 2025, hanya 28 jam setelah jatuh dari tebing curam setinggi sekitar 10 meter saat mengikuti kegiatan Pramuka di lingkungan sekolah pada 22 November 2025.
Pihak keluarga menuding adanya kelalaian fatal dari guru pembina Pramuka dan pihak sekolah dalam mengawasi kegiatan luar ruang tersebut, serta menilai sekolah tidak transparan dalam memberikan kronologi kejadian.
Kronologi Kejadian dan Dugaan Kelalaian Guru
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari teman-teman almarhum dan pihak keluarga, insiden tragis ini bermula saat kegiatan Pramuka yang diadakan oleh pihak sekolah.
Zie dan teman-temannya diinstruksikan oleh guru pembina Pramuka untuk melakukan pencarian tanaman herbal di area perbukitan yang terletak di belakang sekolah.
Menurut kesaksian, para siswa diperbolehkan naik ke area bukit yang memiliki medan curam dan tebing. Sementara itu, guru pembina Pramuka diduga berada di pos awal dan membiarkan para siswa melakukan pencarian secara mandiri tanpa pengawasan langsung di lokasi berisiko.
Di area tebing yang memiliki pondasi beton di bagian bawah, Zie terpeleset dan jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter. Benturan keras tak terhindarkan.
Luka Luar Ringan, Trauma Organ Dalam Mematikan
Setelah kejadian, Zie sempat dibawa pulang oleh keluarga karena luka luar yang tampak ringan, hanya berupa baret di kaki. Sayangnya, 28 jam kemudian, Zie mengembuskan napas terakhir.
Menurut keterangan medis yang diperoleh kemudian, luka luar yang minim itu menyamarkan trauma serius pada organ dalam. Ibunda Zie menyebutkan almarhum menderita pendarahan otak, trauma serius pada ginjal, kandung kemih, jantung, dan multi trauma lainnya yang fatal.
Tuntutan Keluarga: Kecewa dan Tuntut Keadilan
Ibunda Zie mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap pihak sekolah. Keluarga merasa dirugikan karena informasi awal yang mereka terima dari pihak sekolah dinilai tidak lengkap dan tidak transparan.
“Pihak sekolah tak ada satupun yang memberi kabar ke saya, pihak sekolah hanya memberi keterangan ke keluarga bahwasanya Zhee cuma terpeleset biasa karena pusing masuk angin. Sepele ya nyawa anakku di mata mereka… Kenapa kalian harus bohong? Kenapa kalian menutupinya?” tulis Ibunda Zie dalam curahan hati di salah satu platform media sosial.
Keluarga menegaskan adanya unsur kelalaian guru. “Guru harusnya bukan hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan saja, tapi juga harus melakukan pendampingan atau pengawasan terhadap anak didiknya baik di dalam maupun kegiatan di luar sekolah,” ujarnya.
Calon Sandaran Hidup Hilang
Dalam curahan hatinya, Ibunda Zie, yang menyebut putrinya adalah anak yang kalem dan protektif terhadap kebersihan, menyatakan, “Duniaku serasa runtuh separuh jiwaku hilang. Itu anak saya, sandaran saya kelak di hari Tua.” Ucapnya.
Keluarga berharap kejadian tragis ini menjadi perhatian serius bagi semua pihak, terutama Dinas Pendidikan, terkait standar keselamatan dan prosedur pengawasan dalam kegiatan luar ruang bagi siswa sekolah.
Saat ini, dukungan publik terhadap kasus ini mulai menguat di media sosial dengan tagar #JusticeforZhee yang menyerukan agar aparat penegak hukum, khususnya Polda Lampung dan Polres Pringsewu, mengusut tuntas dugaan kelalaian pidana dalam insiden yang menewaskan siswi berusia 12 tahun tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak SD Negeri 1 Margakarya maupun Dinas Pendidikan Pringsewu terkait tuntutan dan desakan keluarga korban. (Red)