
LEBAK (SL)-Ketua PWI Lebak Fahdi Khalid menolak undangan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Pemerintah Kabupaten Lebak dalam kegiatan family gathering dinas dan mitra kerja.
“Saya atas nama Ketua PWI menolak mengikuti kegiatan tersebut, bukan karena kegiatan tersebut tidak sejalan dengan kami, namun tempat kegiatannya kurang berkenan. Kenapa harus di Bandung? Di Lebak banyak objek wisata yang representatif. Seharusnya Pemkab Lebak menyosialisasikan pariwisata Lebak. Mengapa tidak di sini,” kata Fahdi yang akrab dipanggil dengan sebutan Akew.
Bagi Akew, objek wisata alam di Lebak tersebar hampir di seluruh kecamatan, baik yang telah tereksploitasi maupun yang masih tahap eksplorasi. “Family gathering itu adalah kegiatan pertemuan anggota keluarga OPD, dan biasanya juga melibatkan mitra kerja. Di Lebak ini banyak kawasan agro yang bisa dijadikan objek wisata edukatif. Misalnya di Maja dan Sajira sebagai produsen rambutan atau di Leuwidamar, Bojongmanik, Gunungkencana sebagai wilayah penghasil durian. Kok tidak di sana saja! Di sana, anggota keluarga terutama anak-anak bisa belajar cara menanam, merawat, dan mengetahui potensi pasar dan kandungan gizi. Di tempat kita sendiri kaya dengan wisata tematik, keren-keren, bisa juga sebagai wisata musim panen. Aneh, kok gak pilih tempat sendiri. Apa lokasi wisata kita di sini tidak hebat,” tegas Akew.
Akew pun menawarkan lokasi lain yang menurutnya tak kalah hebat, yakni Sawarna yang punya hamparan geopark, termasuk gua. Di sana, jelasnya, setiap pengunjung bisa mengetahui asal usul terbentuknya batuan tersebut. “Libatkan unsur terkait. Sudah harus dimulai. Berhentilah pergi-pergi ke luar daerah. Atau bawa ke permukiman adat Baduy. Kan tidak semua anak-anak paham siapa dan darimana orang Baduy itu. Kita harus urun rembug menghidupkan pariwisata,” papar Fahdi kapada wartawan.
Kritik pedas mendasarkan pada cinta wisata daerah sendiri ini, pada awalnya ditulis Akew di jejaring media sosial Facebook melalui akun Akew Sapulete.
Gayung bersambut, kampiun pariwisata Lebak, Erwin Komara Sukma pun maju ikut mengeritik. Pada unggahan di laman akun Facebook pribadinya, Erwin menyayangkan masih rendahnya kreativitas pengembangan pariwisata di Lebak.
“Pengelolaannya masih primitif. Pejabatnya harus diganti, tidak kreatif dan responsif. Padahal alam kita menyediakan objek wisata sangat melimpah, tapi lambat dalam pengembangannya, akibat minim gagasan dan kreasi,” kata Erwin.
Erwin yang akrab dipanggil Aa, adalah mantan Kepala Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, sebelum Sawarna dibagi menjadi dua desa, yaitu Sawarna Induk dan Sawarna Timur. Beliau adalah master terbentuknya masyarakat pariwisata Sawarna seiring Sawarna menjadi terkenal hingga ke mancanegara setelah Aa Erwin dan perangkat desa beserta warga aktif mengenalkan Pantai Ciantir ke publik.
Selepas jadi kepala desa, Aa Erwin dipercaya warga duduk sebagai anggota DPRD Lebak dari Partai Demokrat. Jauh sebelum terkenal hingga ke pelosok Indonesia, dunia peselencar sudah mengenal Sawarna yang memiliki pantai dengan ombak tinggi dan garang. Dulu, puluhan peselancar kelas dunia datang silih berganti. Dalam lima tahun terakhir, ratusan peselancar mancanegara datang ke Sawarna hanya untuk merasakan ganasnya ombak laut selatan yang eksotik.
“Saya setuju ke Akew. Seharusnya pejabat pemkab memilih obyek wisata di Lebak daripada di luar Lebak,” ujar Mumu Mahmudi, aktivis pariwisata yang menjadi Koordinator Balawista Pantai Bagedur, Kecamatan Malingping.(suryadi)