
Pesawaran, sinarlampung.co – Di tengah masifnya geliat pembangunan di Kabupaten Pesawaran, potret ketimpangan sosial masih merayap di tingkat akar rumput. Suryati (68), seorang lansia penyandang disabilitas tunawicara sejak lahir, harus menghabiskan masa tuanya di sebuah rumah tidak layak huni yang jauh dari standar keamanan dan kesehatan di Desa Paya, Kecamatan Padang Cermin.
Menunggu Kemerdekaan di Bilik Mbah Suminem di Lampung Utara
Kondisi kediaman yang ditempati Suryati bersama keluarganya memprihatinkan. Tanpa pondasi bangunan yang memadai, air hujan dengan mudah melimpah masuk merendam isi rumah. Dinding papan yang mulai lapuk, atap seng yang bocor di berbagai sudut, serta lantai tanah yang lembap menjadi pemandangan harian yang harus ia jalani di usia senjanya.
Usulan Bedah Rumah Mengendap di Birokrasi
Pemerintah Desa Paya dilaporkan telah berulang kali memperjuangkan dan mengusulkan nama Suryati agar masuk dalam skema penerima program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah. Namun, hingga kini usulan tersebut belum juga terealisasi dan masih tertahan dalam antrean administrasi pemerintah daerah.
Keterbatasan komunikasi karena kondisi tunawicara membuat aspirasi Suryati diwakilkan oleh sang putri, Asmah, saat menerima kunjungan media di kediamannya.
“Kami hanya ingin ibu bisa tinggal di tempat yang lebih layak, setidaknya tidak kebanjiran saat hujan dan lebih aman untuknya di usia yang sudah renta,” tutur Asmah dengan nada penuh harap.
Asmah mendesak Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) untuk segera meninjau langsung lokasi dan memprioritaskan ibunya, mengingat status Suryati sebagai kelompok rentan ganda: lansia dan penyandang disabilitas.
Kisah Suryati menjadi tamparan keras bagi ketepatan sasaran pendataan program penuntasan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di daerah. Kebutuhan hunian yang aman dan memiliki sanitasi dasar merupakan hak konstitusional warga negara yang dijamin undang-undang.
Sembari menunggu kepastian verifikasi lapangan dan pencairan bantuan dari dinas terkait, kepedulian swadaya masyarakat serta semangat gotong royong warga desa menjadi tumpuan sementara untuk meminimalisasi kerusakan fisik rumah Suryati.
Publik kini menanti langkah nyata Pemkab Pesawaran agar bantuan stimulan perumahan tidak sekadar menjadi deretan angka di atas kertas laporan, melainkan benar-benar hadir menyentuh warga yang paling membutuhkan demi mewujudkan kehidupan yang bermartabat. (Red)