
Banda Aceh, sinarlampung.co – Sebanyak 68 karya foto jurnalistik yang merekam berbagai peristiwa bencana di Pulau Sumatra dipamerkan di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh. Pameran bertajuk “Prahara Pulau Emas” itu menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat pentingnya membangun budaya sadar bencana.
Pameran yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) berlangsung pada 3-8 Agustus 2026. Sebanyak 38 pewarta foto dari berbagai daerah di Indonesia menampilkan karya-karya yang mengabadikan jejak bencana dan sisi kemanusiaan di Pulau Sumatra.
Roadshow tersebut dibuka secara resmi oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, pada Senin (3/8/2026). Banda Aceh menjadi kota kedua setelah Padang, Sumatera Barat, sementara rangkaian pameran akan ditutup di Medan, Sumatera Utara.
Dalam sambutannya, Illiza mengatakan pameran itu tidak sekadar menyajikan foto, tetapi juga menyimpan rekaman sejarah yang dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat dan pemerintah.
“Pameran ini bukan sekadar menampilkan gambar, melainkan rekaman sejarah. Ketika masyarakat tidak merawat bumi, dampaknya jauh lebih besar. Pembelajaran ini penting agar pemerintah mempersiapkan diri menjadi daerah yang tangguh bencana. Pemerintah membutuhkan pewarta foto untuk merekam kondisi nyata di lapangan,” ujar Illiza.
Menurutnya, fotografi jurnalistik memiliki kekuatan membangun kesadaran publik sekaligus menggerakkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, mengatakan buku foto dan pameran Prahara Pulau Emas merupakan monumen ingatan kolektif atas berbagai bencana yang pernah melanda Pulau Sumatra.
“Kamera pewarta foto bukan sekadar alat bekerja, melainkan saksi visual atas runtuhnya ruang hidup sekaligus penuntun kemanusiaan. Kami menghadirkan karya ini secara beretika untuk memuliakan ketangguhan manusia dalam melewati masa-masa sulit, bukan untuk mengeksploitasi penderitaan,” kata Dwi.
Ia berharap seluruh karya yang dipamerkan dapat memperkuat edukasi mitigasi bencana sekaligus menjadi penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ketua PFI Aceh, M. Anshar, menjelaskan penyelenggaraan pameran di Aceh merupakan hasil kolaborasi PFI Pusat, Yayasan Riset Visual mataWaktu, pemerintah daerah, BUMD, dan sektor swasta.
Menurutnya, fotografi jurnalistik bukan hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga mampu melahirkan aksi nyata bagi masyarakat.
“Foto jurnalistik tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga mampu menggerakkan kepedulian. Melalui dukungan PFI Pusat, kami memperoleh amanah membangun sumur bor air bersih di Kabupaten Pidie Jaya. Ini menjadi bukti bahwa karya foto dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Anshar.
Selain pameran dan peluncuran buku, kegiatan tersebut juga diisi dengan diskusi fotografi jurnalistik yang menghadirkan Oscar Motuloh dan Danu Kusworo. Diskusi diikuti mahasiswa serta komunitas fotografi dari berbagai daerah di Aceh sebagai upaya melahirkan generasi pewarta foto yang profesional, menjunjung tinggi etika jurnalistik, dan memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Pada kesempatan itu, PFI Pusat juga menyerahkan bantuan secara simbolis kepada PFI Aceh untuk pembangunan sumur bor air bersih di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana.
Pembukaan roadshow turut diakhiri dengan penyerahan cendera mata kepada sejumlah mitra strategis, di antaranya PLN Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, PT Bank Aceh Syariah, PT Solusi Bangun Andalas, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Museum Tsunami Aceh, dan Danlanud Sultan Iskandar Muda.
Roadshow Pameran Foto “Prahara Pulau Emas” dibuka untuk umum hingga 8 Agustus 2026. Melalui puluhan karya foto jurnalistik tersebut, PFI berharap masyarakat tidak hanya mengenang bencana yang pernah terjadi, tetapi juga semakin memahami pentingnya mitigasi dan ketangguhan dalam menghadapi bencana. (*)