
Pria kelahiran 1967 lulusan Teknik Kimia UGM dan Chemical Engineering Shizuoka University (Jepang) itu menemukan alat deteksi dan pengobatan kanker yang diberi nama Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT). “Dia ingin berbagi dengan kaum perempuan bagaimana mendeteksi, mencegah, hingga menghancurkan kanker payudara,” kata Noenk Barliyan yang akrab disapa Mbak Nunung kepada wartawan, Jumat (27/9).
Mbak Nung mempersilahkan datang dalam acara tersebut atau hubungi nomor telepon 081213577000. ECCT temuan Warsito Purwo Taruno mampu membunuh sel kanker berbasis medan listrik. Penemuan alat tersebut telah dipaparkan pada konferensi ilmiah tentang kanker di Royal College of Physician, London.
Menurut Mbak Nung, ECCT juga menginduksi respons sel imun atau sel kekebalan di sekitar jaringan sel kanker yang mati karena medan listrik. “ECCT punya potensi membuat ‘cold‘ tumor jadi ‘hot‘ tumor yang bisa dideteksi sel imun. “Kanker tidak terlihat buat sistem imun karena sel kanker tidak mengeluarkan molekul signal yang bisa dideteksi oleh sel imun,” kata Mbak Nung.
Dia menjelaskan strategi yang dibuat oleh alat terapi imun adalah dengan teknik imun dengan membuat antibodi pada satu reseptor yang ada di sel kanker sehingga sel kanker bisa terlihat buat sistem imun. Sebelum merambah ke peralatan medis, Dr. Warsito pernah mengembangkan teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) yang sempat menjadi incaran sejumlah perusahaan minyak terkemuka di Amerika Serikat dan NASA.
Sebab teknologi temuan Dr. Warsito mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI. Teknologi pemindai 4D pertama di dunia itu kemudian dipatenkan Dr. Warsito di Amerika Serikat pada lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006.
Teknologi ECVT ciptaan Dr. Warsito itu kemudian menjadi berita utama di mana-mana, antara lain Ohio State Research News pada 27 Maret 2006 dan kemudian dikutip oleh Science Daily (Amerika Serikat), Scenta (Inggris), Chemical Online, Electronics Weekly.
Dalam pengembangannya, teknologi ECVT sudah diakui bahkan dipakai lembaga antariksa Amerika (NASA), Exxon Mobil, BP Oil, Shell (perusahaan), ConocoPhillips, Dow Chemical, mistubishi Kimia termasuk Departemen Energi AS (Morgantown National Laboratory). Sedangkan di Indonesia sendiri, teknologi ini digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta. (rls/red)