
Bandarlampung, sinarlampung.co – Pembangunan drainase di Jalan P. Singkep 7, dekat Perumahan Villa Marina, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung, memicu sorotan warga setempat. Proyek senilai Rp694,4 juta milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bandar Lampung tersebut diduga dikerjakan “asal jadi” dengan metode tambal sulam pada struktur bangunan lama.
Berdasarkan hasil pemantauan langsung di lokasi, pembongkaran dinding drainase lama dan pemasangan fondasi batu baru hanya terlihat di beberapa titik. Sementara pada bagian lainnya, pasangan batu lama diduga tetap dipertahankan dan hanya dilapisi perbaikan permuka berupa plesteran serta acian semen.
Selain metode pengerjaan, kualitas fisik bangunan juga dipertanyakan. Lapisan acian pada dinding drainase yang baru dikerjakan terlihat sudah mulai rontok dan mengelupas. Ditambah lagi, papan informasi proyek tidak ditemukan di lokasi saat peninjauan dilakukan, sehingga menuai keprihatinan terkait keterbukaan informasi publik.
Proyek yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandar Lampung Tahun Anggaran 2026 ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp694.429.905,51. Pekerjaan sepanjang kurang lebih 500 meter tersebut dilaksanakan oleh rekanan CV Dua Ribu Lima.
Pekerja Akui Tak Semua Dibongkar
Pengakuan mengenai tidak dibongkarnya seluruh struktur lama datang langsung dari pekerja di lapangan. Wely, salah satu pekerja proyek, membenarkan bahwa pengerjaan baru hanya menyasar titik-titik tertentu.
“Ya memang tidak semuanya bangunan drainase lama dirubuhkan. Yang dibongkar pakai ekskavator dan dibangun dinding baru cuma beberapa titik, termasuk dinding drainase lama yang dulu sempat ambrol,” ungkap Wely saat dikonfirmasi di lokasi.
Mengenai kondisi acian dinding yang sudah mengelupas dan rontok sebelum proyek diserahterimakan, Wely berdalih hal itu disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem. “Iya, itu karena cuaca terlalu panas, makanya acian jadi rontok. Kalau pengawas dari Dinas PU, Pak Jon, sering datang ke sini,” klaimnya.
Kondisi fisik pengerjaan yang terkesan hanya “dibuat kelihatan baru” ini memicu kekhawatiran mendalam bagi warga sekitar, terutama menjelang datangnya musim penghujan dengan debit air tinggi.
Seorang warga setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan menuturkan, sejak awal pengerjaan, pembongkaran memang lebih banyak terlihat pada bagian bekas reruntuhan hingga pintu masuk Perumahan Villa Marina.
“Kami sangat khawatir dengan kualitas pekerjaan seperti ini. Apalagi tidak semua dinding drainase lama dibongkar dan dibangun baru. Kalau cuma diaci dan diplaster ulang supaya kelihatan baru, bisa-bisa belum lama dipakai sudah ambrol lagi,” keluhnya.
Ia menambahkan, dengan anggaran APBD yang mendekati Rp700 juta, masyarakat mendesak instansi terkait dan tim teknis Dinas PU Kota Bandar Lampung untuk turun melakukan uji petik serta evaluasi ketat terhadap Detail Engineering Design (DED), spesifikasi teknis, dan kesesuaian dokumen kontrak.
Pengawasan dan pemeriksaan mutu konstruksi dinilai sangat krusial agar aliran air dapat berfungsi optimal tanpa merugikan keuangan daerah serta keselamatan warga sekitar. (Red)