
Bandarlampung, sinarlampung.co – Gelombang keluhan pengguna jalan terkait berulangnya kenaikan tarif Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) terus meluas. Selain dibebani tarif mahal, para pengendara mengeluhkan buruknya kualitas infrastruktur fisik di ruas Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (Bakter) serta Terbanggi Besar–Pematang Panggang–Kayu Agung (Terpeka).
Para pengguna jalan menilai kenaikan tarif tidak sebanding dengan kondisi keselamatan di lapangan. Jalur tol tersebut dikeluhkan minim penerangan, bergelombang, hingga dipenuhi lubang (jeblogkan) mendadak yang membahayakan pengendara.
Salah seorang pelaku usaha lokal, Dwi, mengungkapkan bahwa kombinasi tarif tinggi dan kondisi jalan berbahaya mendesak para pengguna jalan hingga armada angkutan barang kembali beralih memanfaatkan jalan arteri Lintas Sumatera.
“Intinya tarif tol mahal, jadi banyak teman-teman beralih ke jalan biasa lagi. Dulu rute Metro–Bandar Lampung via Exit Tol Kota Baru cuma Rp25.000, sekarang sudah lebih dari dua kali lipat. Ditambah kondisi jalan tol Bakter dan Terpeka yang tidak stabil; penerangan minim, jalur bergelombang, dan banyak lubang mengejutkan. Sekarang Jalan Lintas Sumatera bagian Timur, Tengah, Barat, sampai Jalur Tarahan ramai lagi oleh truk-truk besar,” ujar Dwi, Sabtu (12/9/2026).
Reni, warga asal Palembang juga mengatakan hal yang sama. “Saya kemarin ke Kalianda bang. Masuk dari kota baru. Parah gelombang jalannya. Padahal sudah banyak yang diganti beton, dengan bongkar pasang. Tapi tetap saja. Kalo yang tidak hapan jalur ini, rawat kecelakaan,” kata Reni.
Menanggapi fenomena tersebut, Akademisi IIB Darmajaya, Yan Aditiya Pratama, mendesak Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk mengevaluasi penyesuaian tarif secara obyektif dan tidak sekadar menjadikannya agenda formalitas berkala.
Menurut Yan, evaluasi kenaikan tarif wajib menyelaraskan laju inflasi dengan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) secara nyata di lapangan.
“Mulai dari kondisi kelayakan fisik jalan, penerangan, sistem drainase, hingga kecepatan respons terhadap kecelakaan harus diperiksa secara ketat. Jika layanan di lapangan belum memadai dan membahayakan keselamatan, BPJT harus berani menolak atau menunda usulan kenaikan tarif tersebut,” tegas Yan.
Penumpukan kembali kendaraan berkapasitas besar di jalur arteri Lintas Sumatera kini berpotensi memicu kemacetan, meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, serta mempercepat kerusakan infrastruktur jalan nasional non-tol. (Red)