
Bandarlampung, sinarlampung.co – Keberhasilan dan reputasi sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh dinamika akademis di dalam kampus, melainkan juga seberapa kuat almamater terhubung dengan para alumninya. Gagasan tersebut menjadi fokus utama dalam forum diskusi informal “Alumni Bersama Budiyono” yang mempertemukan Bakal Calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, Dr. Budiyono, S.H., M.H., dengan sejumlah alumni lintas fakultas dan generasi di RM Rumah Kayu, Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).
Pertemuan yang diinisiasi oleh alumni Fakultas Pertanian angkatan 1987, Nashir Badrie, tersebut dihadiri puluhan tokoh alumni dari berbagai latar belakang, di antaranya Tuntun Sinaga, Budi Harjo, Alhajar Sahyan, Ning Siti Fatimah, Abdy Wasik Ali, Erwin Putubasai, Hery Patria, Nery Juliawan, Arief Taneko, Iskak Susanto, Awal Saptono, Nasirin Aziz, Iin Mutmainnah, serta Ardian Hasibuan.
Para alumni yang hadir memiliki rekam jejak profesional yang beragam, mulai dari birokrasi, akademisi, praktisi hukum, pengusaha, konsultan, hingga aktivis sosial dan kebudayaan. Latar belakang yang bervariasi ini dinilai sebagai modal sosial serta kekuatan strategis yang besar bagi Unila.
Paradigma Baru: Reconnecting Unila with Its Alumni
Dalam kesempatannya, Dr. Budiyono menegaskan bahwa alumni bukan sekadar mantan mahasiswa yang dihubungkan oleh ikatan emosional atau ajang reuni tahunan, melainkan stakeholder strategis perguruan tinggi. Ia menawarkan visi “Reconnecting Unila with its alumni” sebagai arah baru pengelolaan hubungan alumni.
“Hubungan antara kampus dan alumni harus ditingkatkan dari sekadar nostalgia menjadi kolaborasi strategis yang terstruktur. Kompetensi, pengalaman, jaringan industri, dan sumber daya alumni merupakan energi penting untuk memajukan Unila,” ujar Budiyono.
Ia memaparkan, alumni di sektor birokrasi dapat menjadi jembatan kolaborasi kebijakan, pengusaha dapat membuka peluang magang dan kewirausahaan, akademisi memperluas jaringan riset, sementara alumni di bidang hukum, sosial, dan politik dapat memperkuat kontribusi publik kampus.
Kepemimpinan Terbuka dan Tata Kelola Inklusif
Pandangan senada disampaikan oleh purna bakti dosen Unila, Tuntun Sinaga. Ia menekankan bahwa Unila membutuhkan kepemimpinan yang berintegritas dan mampu membangun kepercayaan (trust) di tingkat internal maupun eksternal.
“Kampus butuh pemimpin yang tidak hanya mengurus administrasi, tetapi mampu menjaga marwah akademik, membangun tata kelola yang transparan, dan membuka ruang dialog dengan seluruh pemangku kepentingan,” kata Tuntun.
Gagasan kepemimpinan inklusif yang dibawa Budiyono menempatkan rektor sebagai simpul penghubung antara dunia akademis dan realitas sosial-industri. Melalui pendekatan ekosistem terbuka, Unila diharapkan mampu mengintegrasikan potensi alumni—mulai dari program mentoring, beasiswa, kolaborasi riset, hingga jejaring karier—guna menjawab tantangan kontestasi perguruan tinggi di era global. (Red)