
Bandarlampung, sinarlampung.co – Pagi di Jalan Way Seputih, Kelurahan Pahoman, Senin (10/8/2026) itu mulanya berjalan seperti biasa. Udara dingin masih menyelimuti sudut-sudut kawasan permukiman di Bandar Lampung tersebut ketika seorang petugas kebersihan sibuk mengangkut sisa-sisa limbah rumah tangga.
Polisi Ungkap Motif ART Buang Bayi di Pahoman: Depresi Diceraikan Suami saat Hamil
Penemuan Jasad Bayi Perempuan di Pahoman Gegerkan Warga, PRT Asal Jambi Diamankan Polisi
Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di dalam sebuah kardus cokelat kusam yang tergeletak di kotak sampah. Ada bagian kecil menyerupai jemari kaki mungil yang tersembul dari balik lipatan kain dan karung beras.
Rasa penasaran berubah menjadi kepanikan seketika. Kardus itu tidak berisi sampah biasa, melainkan jasad bayi perempuan yang baru saja dilahirkan—dingin, tak bernyawa, dan ditinggalkan tanpa suara.
Hanya dalam hitungan jam, rekaman kamera pengawas (CCTV) membawa kepolisian pada sebuah kenyataan yang tak kalah menyayat hati. Pelaku yang membuang bayi tersebut bukanlah orang jauh, melainkan SA (24), seorang Asisten Rumah Tangga (ART) yang bekerja tepat di lingkungan tersebut.
Saat petugas mendatangi tempat kerjanya, tak ada perlawanan dari SA. Perempuan muda itu ditemukan dalam kondisi tubuh yang terkulai lemas, wajah pucat, dan mata yang menatap kosong. Kondisi fisiknya yang drop dan pendarahan pascamelahirkan memaksa polisi membawanya terlebih dahulu ke RS Bhayangkara sebelum pemeriksaan hukum dimulai.
Di balik aksi nekat dan kelam yang mengguncang warga Pahoman tersebut, terungkap sebuah riwayat penderitaan yang terpendam rapi.
Enam bulan lalu, saat benih kehidupan di dalam kandungannya mulai berdenyut dan membutuhkan perlindungan penuh, ikatan pernikahannya justru kandas. SA diceraikan oleh suaminya. Di tengah keterbatasan ekonomi, status sebagai ART, dan beban mental sebagai calon ibu tunggal tanpa dukungan emosional, jiwa perempuan 24 tahun itu perlahan runtuh.
Depresi hebat merayap tanpa ada yang menyadari. Di dalam kamar mandi tempatnya bekerja, jauh dari riuk pikuk kepedulian orang lain, SA bertarung seorang diri melahirkan buah hatinya. Tanpa bantuan medis, tanpa dekapan hangat seorang pendamping, dan dengan pikiran yang dipenuhi bayang-bayang keputusasaan.
”Saat diamankan, pelaku dalam kondisi lemas dan syok sehingga harus mendapatkan perawatan medis terlebih dahulu,” kata Kapolsek Tanjungkarang Barat, AKP Martoyo.
Kini, kasus tersebut telah dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Bandar Lampung. Sementara itu, jasad bayi mungil yang tak berdosa tersebut menyusul di ruang jenazah RS Bhayangkara untuk proses otopsi.
Tragedi Pahoman bukan sekadar catatan kriminal biasa di lembar berita harian. Ini adalah cermin retak tentang betapa pekatnya ruang gelap depresi pascapenceraian yang ditanggung seorang diri—di mana rasa sepi, keputusasaan, dan ketiadaan penopang mental dapat mematikan nurani kemanusiaan yang paling mendasar. (Tari Pratama)