
MESUJI, sinarlampung.co – Deretan kasus kekerasan bersenjata api kembali mencoreng wilayah Mesuji. Seorang wanita bernama Yanti (35) ditemukan tewas mengenaskan di atas jalan beton persis di depan rumahnya, Desa Wiralaga I, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji, Lampung, Senin (10/8/2026) menjelang subuh.
Korban meregang nyawa akibat luka tembak yang menerjang tubuhnya. Dalam rekaman video yang beredar di masyarakat, terlihat tubuh korban yang telah ditutupi kain tergeletak di tengah jalan perkampungan. Isak tangis pecah dari beberapa warga dan anggota keluarga yang berdiri di pinggir jalan menyaksikan kematian korban.
Kapolres Mesuji, AKBP Muhammad Firdaus, membenarkan terjadinya peristiwa tragis tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian saat ini sedang memburu pelaku yang mengarah pada suami korban sendiri.
“Benar, peristiwa itu terjadi pagi tadi di mana korban atas nama Yanti meninggal dunia setelah ditembak oleh pelaku. Untuk pelaku yakni suami korban sendiri saat ini telah melarikan diri usai melakukan penembakan. Tim masih melakukan pengejaran terhadap dirinya,” tegas Firdaus.
Mengenai motif di balik aksi nekat tersebut, pihak kepolisian belum memberikan keterangan lebih detail karena proses penyelidikan masih terus berjalan.
“Belum, kami masih meminta keterangan beberapa saksi dari pihak keluarga atas peristiwa tersebut,” tuturnya.
Sementara itu, jasad korban telah dievakuasi dari tempat kejadian perkara (TKP) oleh aparat kepolisian untuk proses pemeriksaan medis lebih lanjut. “Jenazah korban sudah dibawa ke rumah sakit guna dilakukan proses visum,” tandas Firdaus.
Gunung Es Kekerasan Senpi di Wilayah Mesuji
Tragedi yang menimpa Yanti bukan sekadar kasus kriminal tunggal, melainkan menambah panjang daftar hitam peredaran senjata api rakitan (senpira) dan aksi kekerasan bersenjata di wilayah Mesuji—baik yang masuk dalam administrasi Kabupaten Mesuji (Lampung) maupun Kecamatan Mesuji di perbatasan Ogan Komering Ilir (OKI, Sumatera Selatan).
Maraknya kepemilikan senpira yang berpadu dengan eskalasi konflik pribadi, perselisihan keluarga, hingga sengketa lahan menahun, kerap menjadikan senjata api sebagai jalan pintas penyelesaian masalah di kawasan ini.
Berikut rekam jejak rentetan insiden penembakan yang mencuri perhatian publik di kawasan Mesuji dalam beberapa tahun terakhir:
* Live TikTok Maut (Juni 2026): Seorang remaja berinisial SH (18) tewas setelah tertembak senpira tepat di dada kiri oleh temannya, MCA, saat sedang melakukan siaran langsung di Desa Margo Bakti, Kecamatan Mesuji (OKI).
* Penembakan Petani akibat Konflik Personal (Februari 2026): Seorang petani di Mesuji menderita luka tembak di bagian wajah (bawah mata) usai diterjang peluru oleh tetangganya sendiri akibat perselisihan pribadi.
* Pegawai Honorer Obrak-Abrik Keamanan (Oktober 2024): Oknum pegawai honorer Pemkab Mesuji, Lampung, dicokok polisi usai melepaskan tembakan ke arah kenalannya.
* Serangan di Lahan Sawit (Mei 2024): Pekerja kebun PT Sumber Wangi Alam (SWA) di Desa Sodong, Kecamatan Mesuji (OKI), diberondong tembakan oleh sekelompok warga saat beraktivitas di area perkebunan.
* Dendam Keluarga di Wiralaga (Februari 2023): Warga berinisial YD asal Wiralaga, Mesuji, nekat menembak kakak iparnya menggunakan senjata api laras panjang akibat sakit hati atas konflik internal keluarga.
* Akar Konflik Agraria (2011): Rekam sejarah mencatat Mesuji sebagai salah satu titik rawan bentrokan agraria skala nasional yang melibatkan warga dan perusahaan perkebunan hingga memakan korban jiwa.
Peristiwa di Wiralaga I ini kembali menegaskan perlunya tindakan tegas dari aparat penegak hukum, tidak hanya dalam menangkap terduga pelaku penembakan, tetapi juga memberantas sirkulasi senjata api rakitan terlarang yang masih beredar luas di tengah masyarakat. (Red)