
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menawarkan gagasan jalan tengah sebagai langkah memperkuat organisasi. Menurutnya, NU akan semakin kokoh jika mampu menjaga persatuan sekaligus membangun kemandirian jamaah.
Gagasan itu disampaikan Gus Rozin saat bersilaturahmi dan berdialog dengan jajaran PWNU serta Ketua PCNU se-Provinsi Lampung, Selasa (4/8/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar pikiran mengenai arah organisasi sekaligus memperkuat kebersamaan menjelang Muktamar.
Bagi Gus Rozin, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar di dalam organisasi. Namun, yang lebih penting adalah menghadirkan solusi dan menjaga semangat kebersamaan agar NU tetap menjadi rumah besar bagi seluruh warganya.
“Bagi saya, silaturahim ini adalah momentum bermuhasabah. Bagaimana kita bersama-sama memikirkan yang terbaik bagi NU, membangun jalan tengah, dan menghadirkan solusi agar organisasi semakin kuat dalam menjalankan khidmah,” ujarnya.
Ketua PWNU Jawa Tengah itu mengatakan, semangat ta’aruf dan ta’aluf perlu terus dirawat karena menjadi fondasi lahirnya kepercayaan, solidaritas, dan persatuan di tubuh NU.
“Ijtima’ membangun partisipasi, ta’aruf membangun kepercayaan, ittihad membangun kesatuan gerak, dan ta’aluf membangun kohesi yang melahirkan kekuatan organisasi serta keberlanjutan khidmah. Dengan cara inilah Nahdlatul Ulama menjadi jam’iyyah yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat,” katanya.
Selain mengedepankan jalan tengah, Gus Rozin juga menekankan pentingnya membangun kemandirian organisasi. Menurutnya, NU yang kuat adalah NU yang bertumpu pada kekuatan jamaah, mampu mengelola aset secara profesional, serta tidak bergantung pada kepentingan pihak luar.
“NU tidak akan benar-benar mandiri apabila hanya mengandalkan bantuan dari luar. Kemandirian harus dibangun dari jamaah sendiri melalui partisipasi, gotong royong, dan pengelolaan aset yang profesional sehingga organisasi memiliki kemampuan membiayai khidmahnya secara berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemandirian ekonomi bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan NU memiliki kemampuan untuk terus mengembangkan pendidikan, memperkuat pesantren, meningkatkan kesejahteraan warga, serta memperluas pelayanan sosial bagi masyarakat.
Dalam dialog tersebut, Gus Rozin juga mengingatkan bahwa NU harus tetap memainkan perannya sebagai organisasi masyarakat sipil yang mampu menjaga persatuan, memperkuat demokrasi, serta menjadi mitra strategis sekaligus sahabat kritis pemerintah demi kepentingan umat dan bangsa.
Pertemuan berlangsung hangat dengan berbagai masukan dari pengurus NU di Lampung. Selain membahas penguatan pendidikan pesantren dan organisasi, sejumlah peserta menilai gagasan jalan tengah yang ditawarkan Gus Rozin sejalan dengan karakter NU yang selama ini mengedepankan musyawarah, persatuan, dan kemaslahatan bersama menjelang Muktamar ke-35. (*)