
Lampungselatan, sinarlampung.co – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa pendidikan merupakan jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem dan mengangkat derajat keluarga kurang mampu. Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi di Lampung menjadi wujud komitmen negara dalam memberikan akses pendidikan berkualitas yang merata menuju Indonesia Emas 2045.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur saat menghadiri acara Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa Tahun Ajaran 2026/2027 di Gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung, Kota Baru, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat 31 Juli 2026.
Acara tersebut sekaligus menandai dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi 401 peserta didik baru yang mencakup jenjang SD (60 siswa), SMP (150 siswa), dan SMA (120 siswa), memperkuat 71 siswa angkatan pertama yang telah menempuh pendidikan asrama selama satu tahun terakhir.
“Tahun lalu kami menerima 71 siswa pertama yang benar-benar membutuhkan bantuan. Ada yang sempat putus sekolah, bekerja membantu orang tua, hingga kehilangan harapan. Hari ini, dalam waktu satu tahun, mereka terbukti mampu membawakan acara dan berpidato dalam bahasa Inggris, Jepang, hingga Arab. Ini bukti bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi jika diberi kesempatan,” ujar Rahmat Mirzani Djausal.
Program Integrasi Presiden dan Pendidikan Karakter
Sekolah Rakyat Terintegrasi merupakan inisiatif Presiden Republik Indonesia yang menyediakan jenjang pendidikan lengkap dari SD hingga SMA secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Seluruh siswa tidak hanya dibebaskan dari biaya pendidikan, tetapi juga mendapatkan fasilitas asrama, pemenuhan kebutuhan gizi harian (tiga kali makan dan dua kali kudapan), seragam, alat tulis, hingga sarana pembelajaran digital.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung, Asis Prasetyo, menjelaskan bahwa sekolah ini mengusung trilogi: Memuliakan Wong Cilik, Menjangkau yang Belum Terjangkau, dan Memungkinkan yang Tidak Mungkin.
“Kami menerapkan Kurikulum Nasional yang diperkuat dengan pendidikan karakter berbasis asrama. Selain itu, kami menerapkan batas tegas zero tolerance terhadap segala bentuk perundungan (bullying), kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dan radikalisme,” tegas Asis.
Tanamkan Filosofi Piil Pesenggiri dan Angkat Harapan Siswa
Dalam arahannya, Gubernur Mirza meminta agar kurikulum sekolah tetap mengakar pada nilai-nilai kearifan lokal Lampung, yakni filosofi Piil Pesenggiri yang mencakup nilai Nemui Nyimah (ramah dan terbuka), Sakai Sambayan (gotong royong), dan Nengah Nyappur (bersosialisasi).
Momen Open House diwarnai dialog interaktif Gubernur bersama sejumlah siswa. Salah satunya Dewi Bunga Lestari, calon siswi asal Pringsewu yang sempat putus sekolah selama dua tahun akibat kendala biaya. Lewat Sekolah Rakyat, Dewi kini kembali merajut mimpinya untuk menjadi anggota Polri dan mengincar beasiswa pendidikan ke Turki.
Kisah lain datang dari Muhammad Ridwan Pratama, siswa kelas IX asal Sukaraja anak seorang buruh bengkel. Selama setahun membina diri di asrama, Ridwan berhasil mengukir prestasi dengan menyabet medali emas kejuaraan karate dan bercita-cita menjadi chef profesional.
“Harapan-harapan yang sempat terputus kini tersambung kembali melalui Sekolah Rakyat. Di pundak anak-anak ini, kita titipkan masa depan Lampung yang lebih sejahtera,” pungkas Gubernur sebelum menyematkan atribut sekolah secara simbolis kepada perwakilan calon siswa baru. (Red)