
Lampung Timur, sinarlampung.co – Pemerintah pusat mempercepat penanganan konflik antara manusia dan gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Langkah itu dilakukan melalui pembangunan sistem pengamanan berlapis sepanjang 138 kilometer sebagai bagian dari proyek strategis arahan Presiden Prabowo Subianto yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Untuk memastikan progresnya berjalan sesuai rencana, Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden RI, Marsekal Muda TNI Dedi Saprudin Samsudin, meninjau langsung TNWK, Jumat (24/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Marsda Dedi didampingi Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK Brigjen TNI Sriyanto serta Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi. Kegiatan diawali dengan diskusi di Aula Balai TNWK, kemudian dilanjutkan meninjau sejumlah titik pembangunan di kawasan konservasi.
Salah satu fokus utama proyek ini adalah membangun sistem pengamanan berlapis (multi-layer defense) di sepanjang batas kawasan TNWK untuk mencegah gajah masuk ke permukiman warga. Sistem tersebut terdiri dari tanggul matras beton sepanjang 57,3 kilometer, pagar listrik sepanjang 23,3 kilometer, serta patroli personel di titik-titik rawan.
Sriyanto mengatakan, kombinasi pengamanan fisik dan patroli lapangan dinilai lebih efektif mengurangi konflik antara manusia dan gajah.
“Gajah itu hewan yang sangat cerdas. Selain pembatas fisik, kami menerapkan pengamanan berlapis,” jelasnya.
Selain memperkuat mitigasi konflik, pemerintah juga membenahi berbagai infrastruktur pendukung konservasi dan pariwisata. Salah satu yang menjadi ikon baru adalah menara pandang setinggi 53 meter yang ramah bagi penyandang disabilitas dan lansia. Menara tersebut akan menjadi pusat informasi tentang TNWK.
Tak hanya itu, Komite Gabungan juga membangun 46 kandang gajah baru, skywalk, jembatan, dan embung. Di sisi pengembangan sumber daya manusia, sebanyak 11 pawang dan dokter hewan akan diberangkatkan ke Thailand untuk mempelajari teknik penanganan gajah tanpa rantai.
Modernisasi tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan daya tarik TNWK hingga menargetkan kunjungan satu juta wisatawan setiap tahun.
Revitalisasi TNWK juga mengusung pendekatan yang lebih terbuka kepada masyarakat. Melalui konsep “TNWK Adalah Kita”, pengelola ingin membangun rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan konservasi sekaligus menghapus kesan bahwa taman nasional terpisah dari kehidupan warga sekitar.
“Judul New Look Taman Nasional Way Kambas kami pilih untuk menandai perubahan, sebab sejak awal TNWK dan masyarakat seakan terpisah,” kata Sriyanto.
“Tagline-nya adalah ‘TNWK Adalah Kita’ untuk merangkul seluruh warga, karena kawasan ini milik bersama dan kebanggaan Lampung.”
Kepala Balai TNWK, MHD. Zaidi, menambahkan bahwa tata kelola baru mengusung semangat “bahagia bersama” agar masyarakat dapat merasakan manfaat keberadaan TNWK secara langsung.
Sementara itu, Marsda TNI Dedi Saprudin menegaskan pentingnya menjaga kelestarian gajah Sumatra agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
“Jangan sampai anak cucu kita tidak pernah melihat gajah secara langsung dan hanya membayangkannya seperti dinosaurus,” tegas Dedi.
Ia juga meminta Komite Gabungan menjaga kualitas pekerjaan, menerapkan tata kelola anggaran yang transparan, serta menyampaikan laporan secara berkala agar setiap kendala di lapangan, seperti cuaca ekstrem maupun hambatan pengadaan, dapat segera ditangani di tingkat pusat.
Seluruh pembangunan yang menjadi bagian dari proyek strategis Presiden Prabowo Subianto itu ditargetkan selesai sepenuhnya pada akhir tahun 2026. (*)