
Bandarlampung, sinarlampung.co – Penyair asal Lampung, Ari Pahala Hutabarat, mengukir prestasi gemilang di kancah sastra nasional setelah karya bukunya bertajuk “Nusantara, Amnesia” resmi dianugerahi penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026 untuk kategori Kumpulan Puisi.
Kemenangan ini memperpanjang rekam jejak penyair Lampung di panggung sastra Indonesia. Sebelum “Nusantara, Amnesia”, buku puisi “Empedu Tanah” karya Inggit Putria Marga juga pernah menyabet penghargaan serupa.
Capaian ini menjadi catatan penting di tengah bergairahnya ekosistem kepenyairan di Bumi Ruwa Jurai. Selain Inggit dan Ari, Lampung dikenal memiliki deretan penyair bereputasi nasional seperti Isbedy Stiawan ZS, Iswadi Pratama, serta deretan nama potensial lain yang tumbuh dari berbagai daerah. Denyut dinamika sastra di Lampung terus hidup melalui penerbitan buku, pembacaan puisi, diskusi, festival, bengkel sastra, hingga geliat komunitas.
Dalam laporan Dewan Juri KSK 2026, perhatian terhadap “Nusantara, Amnesia” tidak hanya tertuju pada subjek tema yang diangkat, melainkan pada keandalan Ari dalam mengolah persoalan tersebut menjadi sebuah pengalaman puitik yang utuh.
Anggota Dewan Juri KSK 2026, Arif Bagus Prasetyo, mengungkapkan bahwa buku ini berangkat dari gagasan besar mengenai Nusantara dan memori ingatan. Peristiwa sejarah berskala besar dipertemukan secara apik dengan pengalaman manusia yang bersifat personal.
“Karya ini dengan gemilang mengolah trauma sejarah menjadi pengalaman puitik yang kaya, mendobrak kebekuan pikiran sembari menggetarkan emosi melalui komposisi yang padu secara bentuk maupun tema,” ujar Arif Bagus Prasetyo dalam keterangannya.
Sebelum ditetapkan sebagai pemenang utama, “Nusantara, Amnesia” bersaing ketat dalam daftar panjang (longlist) Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 bersama karya-karya terbaik penyair tanah air yang diterbitkan oleh berbagai penerbit nasional maupun independen.
Bukti Etalase Penerbitan Daerah Tembus Panggung Nasional
Keberhasilan “Nusantara, Amnesia” turut membawa angin segar bagi industri penerbitan independen lokal. Buku tersebut diterbitkan oleh Lampung Literature, sebuah lembaga penerbitan berbasis di Lampung.
Kepala Bidang Penerbitan Lampung Literature, Devin Nodestyo, menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir pihaknya konsisten menerbitkan dan mengawal karya-karya penulis serta penyair lokal agar dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
“Kami ingin karya yang lahir di sini punya kesempatan untuk dibaca lebih luas. Karena itu, ketika ‘Nusantara, Amnesia’ memenangkan KSK, ini menjadi bukti faktual bahwa karya yang diterbitkan dari daerah mampu masuk dan bersaing dalam percakapan sastra tingkat nasional,” pungkas Devin. (*)