
Pesawaran, sinarlampung.co –Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di desa sebagai upaya mendorong pengentasan kemiskinan, membuka peluang kerja, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Komitmen itu diwujudkan melalui Pelatihan Vokasi Gerakan Cipta Ekonomi Produktif (GERCEP) 2026 yang digelar di Balai Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Kamis (9/7/2026).
Pelatihan yang menjadi bagian dari program prioritas Pemprov Lampung ini diikuti peserta dari sejumlah desa melalui skema Mobile Training Unit (MTU). Melalui skema tersebut, instruktur beserta peralatan pelatihan didatangkan langsung ke desa sehingga masyarakat lebih mudah mengakses pelatihan keterampilan.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, pelatihan vokasi merupakan langkah penting untuk mencetak tenaga kerja yang kompeten sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.
“Adanya program vokasi melalui semangat design thinking ini, kita harapkan ke depan teman-teman di desa-desa ini bisa melakukan pemecahan masalah by human center atau melalui pendekatan manusia yang mana tentu akan berbeda jika kita melakukan pemecahan-pemecahan masalah itu melalui pendekatan masalah itu sendiri,” ujarnya.
Menurut Jihan, pelatihan vokasi menjadi salah satu solusi untuk menjawab persoalan ketenagakerjaan di Lampung. Program tersebut juga diintegrasikan dengan program unggulan Pemprov Lampung, yakni Desaku Maju, yang menggabungkan berbagai program pembangunan desa.
Ia menjelaskan, program Desaku Maju tidak hanya berfokus pada sektor pertanian dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kapasitas SDM agar mampu mendukung terbentuknya ekosistem ekonomi desa yang lebih baik.
“Desaku Maju ini sebuah program prioritas Provinsi Lampung yang harapannya bisa sukses mengintegrasikan banyak program lainnya. Ada program bidang pertanian di dalam suatu desa yang akan meletakkan instrumen seperti RMU, dryer, ada POC, kemudian pembangunan jalan lingkungan, dan hari ini kita integrasikan juga dari sektor SDM-nya. Yaitu sumber daya manusianya kita latih agar nanti bisa masuk ke dalam ekosistem dan membangun ekosistem itu lebih sempurna lagi,” katanya.
Jihan mengungkapkan, tantangan ketenagakerjaan di Lampung masih cukup besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026, dari sekitar 4,9 juta penduduk yang bekerja, hanya sekitar 31 persen yang berada di sektor formal, sedangkan sisanya masih bekerja di sektor informal.
“Data ini tentunya mengingatkan bahwa pekerjaan rumah kita bukan hanya soal membuka lapangan kerja baru, tetapi yang tidak kalah penting adalah meningkatkan kualitas SDM kita, produktivitasnya, dan daya saing kerja sumber daya masyarakat kita,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelatihan vokasi tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir kritis agar masyarakat mampu menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja di desanya masing-masing.
“Bapak Ibu sekalian yang belajar di program vokasi ini bukan untuk kita sediakan lapangan pekerjaannya, tetapi kita ciptakan bagaimana mindset kita itu bisa berpikir kritis, bisa brainstorming masalah, bisa melakukan mitigasi dari masalah tersebut, membuat solusi, membuat alternatif-alternatif jalan keluar sehingga Bapak Ibulah yang berperan nanti menciptakan suatu lapangan kerja, membuat solusi-solusi sehingga di desa-desa tersebut terdapat ekosistem yang baik,” tegasnya.
Menurutnya, pembangunan SDM menjadi fondasi penting dalam mendukung masuknya investasi, pertumbuhan industri, dan pengembangan ekonomi desa.
“Untuk itu pelatihan vokasi ini adalah salah satu langkah yang nyata pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja yang terampil, yang kompeten, dan juga profesional,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung Agus Nompitu mengatakan, pelatihan vokasi bertujuan meningkatkan keterampilan teknis masyarakat desa, mendukung sektor pertanian yang lebih efisien, memperkuat kemandirian ekonomi lokal, sekaligus menekan angka pengangguran terbuka di Lampung.
“Tingkat pengangguran terbuka Provinsi Lampung saat ini, untuk pertama kalinya di tahun 2026 ini, tembus di bawah 4 persen, di angka 3,95 persen,” ungkapnya.
Agus menjelaskan, pelatihan vokasi tahun 2026 dilaksanakan melalui skema Mobile Training Unit (MTU) dengan fokus pada kejuruan pengelasan dasar peralatan pertanian.
“Skema yang diarahkan pemerintah asalah instruktur yang datang ke desa-desa. Jadi dengan keterbatasan jarak dan juga segala bentuk akses pelayanan maka Gubernur memberikan satu solusi dengan skema MTU, yaitu Mobile Training Unit, di mana instruktur yang hadir ke desa-desa,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada 2026 pelatihan dilaksanakan di 33 desa yang tersebar di 13 kabupaten/kota dengan melibatkan sekitar 528 peserta. Sebelumnya, pada 2025 sebanyak 928 warga telah mengikuti pelatihan serupa.
Pelatihan menerapkan metode berbasis kompetensi dengan komposisi 30 persen teori dan 70 persen praktik. Dengan pola tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga siap bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Melalui program ini, Pemprov Lampung berharap lahir SDM desa yang unggul, produktif, dan berdaya saing sehingga mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus mendukung terwujudnya visi pembangunan “Bersama Lampung Maju Menuju Indonesia Emas.” (*)