
Bandarlampung, sinarlampung.co – Tata kelola birokrasi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bandarlampung mendadak jadi sorotan tajam. Alih-alih menyegarkan struktur manajemen sekolah demi mendongkrak mutu pendidikan, pihak dinas justru kedapatan membiarkan puluhan sekolah negeri dipimpin oleh kepala sekolah “ganda”.
Sebanyak 30 guru yang menjabat sebagai Kepala Sekolah (Kepsek) definitif tingkat SD dan SMP Negeri ditemukan merangkap jabatan sebagai Pelaksana Tugas (Plt) di sekolah lain selama bertahun-tahun. Fenomena ini memicu pertanyaan besar: mengapa Disdikbud Bandarlampung seolah “mandul” dalam melakukan kaderisasi kepemimpinan sekolah?
Secara regulasi, penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) memang sah dilakukan untuk mengisi kekosongan jabatan sementara agar operasional sekolah tidak lumpuh. Namun, Disdikbud Kota Bandarlampung disinyalir telah menabrak aturan hukum yang berlaku.
Berdasarkan Surat Edaran Badan Kepegawaian Negara (BKN) No. 1/SE/I/2021, masa penugasan seorang Plt diatur dengan sangat ketat: Masa jabatan Plt paling lama adalah 3 bulan. Apabila kondisi belum memungkinkan untuk mengangkat pejabat definitif, penugasan hanya boleh diperpanjang paling lama 3 bulan lagi.
Artinya, batas maksimal toleransi seorang ASN memegang posisi Plt adalah 6 bulan. Ironisnya, di Bandarlampung, praktik rangkap jabatan ini dibiarkan langgeng hingga lebih dari dua tahun.
Beban kerja yang timpang tidak hanya menguras energi fisik para kepala sekolah, tetapi juga mengorbankan efektivitas kepemimpinan. Manajemen sekolah dipaksa berjalan dengan sistem “remote” atau paruh waktu.
Beberapa kasus bahkan menunjukkan penempatan Plt yang tidak masuk akal secara geografis.
Hamka, S.Pd., yang berstatus sebagai Kepsek definitif di SDN 2 Kotakarang, dipaksa membagi fokusnya untuk menjadi Plt di SDN 1 Tanjungsenang. Jarak vertikal kedua wilayah ini cukup jauh dan memakan waktu di jalan raya.
Mahmud Sudarmaji, S.Pd., bahkan harus mengarsiteki dua sekolah sekaligus sebagai Plt, yakni di SDN 1 Waygubag dan SDN 1 Rajabasa Raya.
Bagaimana mungkin seorang kepala sekolah bisa mengontrol kedisiplinan guru, memantau kegiatan belajar-mengajar, dan mengeksplorasi dana BOS secara maksimal jika fisiknya harus terbagi di dua tempat yang berjauhan setiap harinya?
Daftar Lengkap 30 Kepsek Rangkap Jabatan
Berikut adalah data komprehensif mengenai sebaran “tata kelola darurat” yang telah berlangsung menahun di lingkungan Disdikbud Bandarlampung:
Mayoritas carut-marut rangkap jabatan ini terjadi di tingkat dasar, dengan total 24 kepala sekolah. Beberapa di antaranya bahkan memegang jabatan Plt ganda tanpa status definitif yang jelas:
Kusrina, M.Pd: Definitif SDN 3 Rawa Laut $\rightarrow$ Plt SDN 2 Rawa Laut.
Melly Gusnita, S.Sos: Definitif SDN 2 Pahoman $\rightarrow$ Plt SDN 1 Pahoman.
Anjar Adinata, S.Pd: Langsung memegang double Plt di SDN 1 Sukamaju dan SDN 2 Keteguhan.
Dra. Azmawati, M.Pd: Definitif SDN 1 Bumiwaras $\rightarrow$ Plt SDN 3 Bumiwaras.
Hamka, S.Pd: Definitif SDN 2 Kotakarang $\rightarrow$ Plt SDN 1 Tanjungsenang.
Heti Puspita Sari, S.Pd: Definitif SDN 1 Pecohraya $\rightarrow$ Plt SDN 2 Sukaraja.
Ismail, MM: Plt SDN 2 Rajabasa Jaya.
Komala, M.Pd: Definitif SDN 1 Kalibalau Kencana $\rightarrow$ Plt SDN 1 Tanjunggading.
Lesmi Atika, M.Pd: Definitif SDN 3 Kaliawi $\rightarrow$ Plt SDN 4 Kaliawi.
Mahmud Sudarmaji, S.Pd: Memegang double Plt di SDN 1 Waygubag dan SDN 1 Rajabasa Raya.
Meliyani, S.Pd: Definitif SDN 3 Rajabasa $\rightarrow$ Plt SDN 1 Gedung Meneng.
Muhammad Akbar, S.Pd: Memegang double Plt di SDN 3 Gulak Galik dan SDN 1 Gulak Galik.
Rohelyati, M.Pd: Definitif SD 5 Talang $\rightarrow$ Plt SDN 3 Sumur Putri.
Rosidin, S.Pd: Definitif SDN 1 Talang $\rightarrow$ Plt SDN 3 Talang.
Sahroni, M.Pd.I: Definitif SDN 3 Rajabasa Jaya $\rightarrow$ Plt SDN 2 Rajabasa.
Siti Patmawati, M.Pd: Definitif SDN 2 Sukabumi $\rightarrow$ Plt SDN 3 Campang Raya.
Ubaidillah Fathurrozi M., M.Pd.I: Definitif SDN 2 Sukajawa $\rightarrow$ Plt SDN 4 Sukajawa.
Umi Atiyah, M.Pd: Definitif SDN 1 Beringin Raya $\rightarrow$ Plt SDN 2 Beringin Raya.
Yuni Purbaningsih, M.Pd: Definitif SDN 1 Kaliawi $\rightarrow$ Plt SDN 1 Kotakarang.
Yuseptina, M.Pd: Definitif SDN 2 Sumberrejo $\rightarrow$ Plt SDN 5 Sumberrejo.
Plt Mandiri (Tanpa Data Definitif Tertulis): Septriani, S.Pd, MA (Plt SDN 1 Gunungterang); Lilis Suryan, M.Pd (Plt SDN 4 Sukajawa); Santi Dewi, M.Pd (Plt SDN 6 Gedong Air); Ester Zega, M.Pd (Plt SDN 1 Kupang Teba).
Di tingkat SMP, terdapat 6 Kepsek definitif yang juga kedapatan memegang kendali atas sekolah lain secara ilegal dari segi durasi waktu BKN:
| No | Nama Kepala Sekolah | Jabatan Definitif | Jabatan Plt (Double) |
| 1 | Hendri Irawan, S.Pd | SMPN 11 Bandarlampung | SMPN 31 Bandarlampung |
| 2 | Juwariyah, M.Pd | SMPN 7 Bandarlampung | SMPN 24 Bandarlampung |
| 3 | Nasib Utomo, M.Pd | SMPN 6 Bandarlampung | SMPN 3 Bandarlampung |
| 4 | Nuryah Indarwati, M.Pd | SMPN 16 Bandarlampung | SMPN 15 Bandarlampung |
| 5 | Sunarto, M.Pd | SMPN 32 Bandarlampung | SMPN 26 Bandarlampung |
| 6 | T. Kasiono, M.Pd | SMPN 9 Bandarlampung | SMPN 4 Bandarlampung |
Dampak nyata dari pembiaran ini mengarah pada penurunan kualitas mutu pendidikan dasar di Kota Tapis Berseri. Manajemen sekolah yang dipimpin pejabat Plt cenderung berjalan statis karena keterbatasan kewenangan strategis eksekusi anggaran jangka panjang.
Publik kini mendesak Walikota Bandarlampung dan Inspektorat untuk segera turun tangan memeriksa kinerja internal Disdikbud. Apakah krisis kepemimpinan ini murni karena minimnya stok guru yang memenuhi syarat administrasi (sertifikasi cakep), ataukah ada unsur kesengajaan birokrasi guna mempertahankan dominasi segelintir oknum tertentu?
Selama posisi definitif ditahan tanpa alasan logis, selama itu pula tata kelola pendidikan di Bandarlampung akan terus berada dalam kondisi carut-marut. (TIM)