
Oleh: Redaksi Sinar Lampung
Memasuki fase krusial menjelang dua tahun dan masuk tahun ketiga kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela, Provinsi Lampung berada di persimpangan jalan yang menentukan. Periode ini adalah momentum “pembuktian pasar” bagi seluruh janji kampanye yang pernah diobral.
Namun, alih-alih menyaksikan akselerasi pembangunan yang bersih, publik justru mencium aroma kecemasan: penetrasi realisasi janji politik mulai terganggu oleh tarikan gerbong kepentingan politik lama, faksionalisme pasca-Pilgub, hingga bayang-bayang polarisasi oligarki lokal.
Jika ritme ini dibiarkan, visi besar “Lampung Maju Menuju Indonesia Emas” terancam terjebak dalam pusaran kompromi politik bagasi lama yang mendistorsi agenda kesejahteraan rakyat.
Sebelum fajar kepemimpinan Mirza-Jihan terbit, Lampung didera kejenuhan akut terhadap performa birokrasi yang lamban dan pembangunan infrastruktur yang kerap memicu kritik nasional. Polarisasi tajam sisa-sisa kontestasi politik masa lalu—termasuk residu jejaring transaksional dari Pilgub terdahulu—meninggalkan sistem pemerintahan yang pragmatis dan tidak fokus pada eksekusi program.
Masyarakat kemudian menaruh harapan luar biasa besar pada pundak Mirza-Jihan sebagai representasi pemimpin muda. Mereka diharapkan membawa gaya kepemimpinan yang progresif, independen, dan bebas dari beban utang budi politik masa lalu. Ekspektasi publik melambung tinggi pada beberapa sektor krusial:
Realitas hari ini menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Menjelang tahun ketiga, penetrasi realisasi janji-janji tersebut mulai melambat dan tampak “tersandera.” Gejala ini diperparah oleh adanya penetrasi kelompok kepentingan dari poros politik masa lalu (afiliasi lingkaran Pilgub terdahulu) yang mencoba masuk ke dalam lingkaran kebijakan melalui pintu belakang.
Fenomena yang terjadi di lapangan saat ini meliputi:
Sebagai nakhoda, Mirza-Jihan seharusnya berdiri tegak di atas asas kemandirian kepemimpinan (independent leadership). Memasuki tahun kedua enam bulan jelang tahun ketiga, pemerintah daerah seharusnya sudah berada dalam fase akselerasi penuh dan sterilisasi birokrasi.
| Variabel | Kondisi Riil Saat Ini | Kondisi Seharusnya |
|---|---|---|
| Pola Eksekusi Janji | Lamban akibat kompromi politik akomodatif | Agresif, berbasis tenggat waktu juknis |
| Tata Kelola Birokrasi | Rentan intervensi eksternal / “titipan” | Steril dari kepentingan faksi, murni meritokrasi |
| Alokasi Anggaran | Terdistorsi kepentingan korporasi/tim sukses | Fokus 100% pada infrastruktur rakyat dan pertanian |
Kebijakan publik tidak boleh didikte oleh kalkulasi elektoral masa lalu atau persiapan logistik politik berikutnya. Fokus tunggal harus diarahkan pada pemenuhan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang telah dikonversikan dari janji kampanye resmi mereka.
Untuk menyelamatkan sisa masa jabatan agar tidak berakhir sebagai “generasi berencana tanpa eksekusi”, Mirza-Jihan harus mengambil langkah berani dan tidak populer. Berikut adalah beberapa solusi strategis yang mendesak untuk diterapkan:
Sterilisasi Lingkaran Dalam (Ring-1) Pembuat Kebijakan
Gubernur harus berani membersihkan kabinetnya dan lingkaran penasihat dari aktor-aktor politik transaksional masa lalu yang mencoba menanamkan pengaruh buruk. Pengisian jabatan eselon harus menggunakan sistem assessment terbuka yang transparan agar tidak bisa diintervensi oleh pihak luar.
Transparansi Radikal Berbasis Digital
Melawan infiltrasi proyek titipan dengan memperketat sistem e-planning dan e-budgeting yang dapat diakses publik secara real-time. Jika penyusunan anggaran dilakukan secara transparan, maka upaya intervensi dari oknum pejabat maupun pengusaha nakal akan rontok dengan sendirinya oleh pengawasan masyarakat.
Konsolidasi Intim Mirza-Jihan
Duo kepemimpinan ini harus tetap solid dan tidak boleh diadu domba oleh faksi-faksi di bawahnya. Pembagian tugas yang tegas dan komunikasi yang harmonis antara Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela adalah benteng pertahanan utama melawan penetrasi luar yang ingin memecah belah konsentrasi pemerintahan.
Perlu di ingat, rakyat Lampung memilih Mirza-Jihan karena menginginkan kebaruan dan keberanian, bukan replikasi dari pola-pola usang masa lalu. Tahun ketiga adalah pembuktian: apakah mereka adalah pemimpin yang mendikte keadaan, atau justru pemimpin yang didikte oleh keadaan. *****