
Tulang Bawang Barat, sinarlampung.co – Proyek raksasa rehabilitasi jaringan Daerah Irigasi (DI) pada delapan titik di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) diduga kuat mengalami gagal konstruksi dan mangkrak. Padahal, proyek yang di bawah naungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung Kementerian PUPR ini menelan anggaran fantastis dari APBN senilai Rp48.350.883.000.
Berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP) Nasional dengan Kode RUP 60668183, proyek Inpres Tahap III ini dikerjakan dengan plot waktu Oktober hingga Desember 2025. Namun, hingga pertengahan tahun 2026, infrastruktur yang ditujukan untuk menyokong Program Ketahanan Pangan Nasional tersebut justru terbengkalai dan belum bisa dimanfaatkan oleh petani.
U-Ditch Rusak dan Tanpa Papan Informasi
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan, terutama di dua lokasi utama di Kecamatan Tulang Bawang Udik, yakni Tiyuh Gedung Ratu (RK 5-6) dan Tiyuh Gunung Katun Tanjungan (RK 5). Saluran irigasi yang menggunakan beton U-Ditch tampak sudah mengalami kerusakan sebelum sempat difungsikan optimal.
Beberapa kesaksian dari pengawas dan pelaksana lapangan mengungkap buruknya tata kelola proyek. Sobri (Pengawas Lapangan Tiyuh Gedung Ratu) mengungkapkan proyek di wilayah Bendung Jambat Tejang dan Bendung Way Gemol ini menargetkan pengairan 375 hektare sawah. Namun, pengerjaan sepanjang 400 meter itu mandek karena pasokan material yang sering terlambat. Rencana pembangunan bronjong penguat konstruksi pun fiktif.
“Dari awal memang terkesan terbengkalai. Sampai sekarang jaringan tersiernya belum rampung dan terkesan mangkrak. Papan informasi proyek sejak awal tidak pernah dipasang, sehingga masyarakat tidak tahu kepastian nilai anggarannya,” kata Sobri, Selasa (9/6/2026).
Laily (Kepala Tiyuh Gunung Katun Tanjungan) menyebut proyek sepanjang 350 meter di wilayahnya bernilai sekira Rp800 juta dan dikerjakan oleh PT Brantas (Abipraya). Hingga saat ini, belum ada serah terima pekerjaan ke pihak tiyuh. Laily sendiri mengaku hanya dilibatkan sebagai pemborong tenaga lokal dengan upah borongan Rp80 juta.
Simpang Siur Anggaran dan Lemahnya Koordinasi Satker
Sengkarut proyek pusat ini kian buram akibat adanya ketidakselarasan informasi mengenai realisasi anggaran. Mantan Kepala Bidang Pengairan Dinas PUPR Tubaba tahun 2025 yang kini menjabat Kabid Perencanaan Perumahan dan Kawasan Permukiman, Ir. Sumardi, ST., MT., mengaku pihaknya tidak tahu-menahu mengenai teknis pelaksanaan setelah kontrak diteken pada 7 November 2025 lalu.
Sumardi menjelaskan, sumber air irigasi ini sejatinya dipasok dari Bendungan Way Rarem untuk mengairi 21 ribu hektare lahan di Tubaba dengan masa kerja awal 45 hari.
“Saat itu daerah hanya mengusulkan program, sedangkan anggarannya dari pusat melalui BBWS. Usulan kami sekira Rp11 miliar, tetapi realisasinya kemungkinan Rp9 miliar khusus Tubaba,” urai Sumardi.
Ia menduga, angka Rp48,3 miliar yang tertera di SiRUP Nasional merupakan paket kontrak menyeluruh PT Brantas Abipraya yang mencakup beberapa kabupaten lain di Lampung, seperti Lampung Utara, Tulang Bawang, dan Mesuji. “Setelah kontrak berjalan, pelaksana tidak pernah berkoordinasi dengan kami terkait teknis maupun pembiayaan,” imbuhnya.
Daftar 8 Titik Daerah Irigasi (DI) yang Terbengkalai di Tubaba
Aktivitas fisik rehabilitasi irigasi yang dilaporkan mangkrak dan tidak stabil dalam memasok air tersebut tersebar di delapan titik rawan, meliputi:
| No | Nama Daerah Irigasi (DI) | Lokasi Kecamatan |
| 1 | DI Way Gemol | Kecamatan Tulang Bawang Udik |
| 2 | DI Way Nurik | Kecamatan Tulang Bawang Udik |
| 3 | DI Way Jambat Tejang | Kecamatan Tulang Bawang Udik |
| 4 | DI Way Tegamoan | Kecamatan Pagar Dewa |
| 5 | DI Way Gemak | Kecamatan Batu Putih |
| 6 | DI Way Lilin | Kecamatan Batu Putih |
| 7 | DI Way Kaffi | Kecamatan Batu Putih |
| 8 | DI Way Bedarow Petaw | Kecamatan Batu Putih |
Adapun wilayah sebaran tiyuh penerima manfaat yang kini justru merugi akibat ketidakstabilan pasokan air meliputi Gedung Ratu (2 titik), Gunung Katun (1 titik), Bujung Sari Marga (1 titik), Toto Wonodadi (1 titik), dan Panca Marga (2 titik).
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Brantas Abipraya selaku kontraktor utama maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BBWS Mesuji Sekampung kompak bungkam dan belum memberikan klarifikasi resmi terkait mandeknya proyek bernilai puluhan miliar tersebut. (Red)