
Lampung Selatan, sinarlampung.co – Sebuah rekaman video yang memperlihatkan kondisi memprihatinkan ratusan penumpang dan pengemudi yang terlantar di atas kapal laut viral di media sosial. Peristiwa nahas ini menimpa KMP Mutiara Persada 3 milik PT ALP. Kapal tersebut terpaksa terapung tanpa daya di perairan Kalianda, Lampung, selama berhari-hari akibat kerusakan mesin di tengah perjalanan.
Salah satu korban, Dedi Kurniadi (53), seorang sopir dari Bahtera Surya Cargo nopol B-9179-KXS), menceritakan kronologi pelayaran yang berujung pada penderitaan panjang tersebut melalui keterangan kepada awak media.
”Kami membeli tiket keberangkatan PT ALP dengan jadwal semula tanggal 13 Mei pukul 08.00 WIB. Namun, jadwal terus mundur. Kendaraan baru mulai dimuat pukul 21.00 WIB, dan kapal akhirnya baru bertolak pukul 04.30 WIB keesokan harinya,” ungkap Dedi kecewa.
Penderitaan penumpang tidak berhenti di situ. Belum hilang rasa lelah akibat penundaan (delay) yang berjam-jam, musibah besar terjadi tak lama setelah kapal meninggalkan pelabuhan. Pada tanggal 14 Mei pukul 08.00 WIB, mesin kapal tiba-tiba mati total di tengah perairan Kalianda, Lampung.
Sejak saat itu, kapal beserta seluruh muatannya hanya terapung diam tanpa kepastian kapan bisa melanjutkan perjalanan atau dievakuasi ke darat.
”Saat kami tanyakan kepada kru, diketahui mesin memang bermasalah dan rusak. Waktu itu kami sangat khawatir, namun pihak kapal berjanji akan menderek kapal ini sampai ke Pelabuhan Panjang sesuai tujuan awal. Tapi sampai hari ini, tanggal 17 Mei, janji itu ternyata hanya omong kosong. Kami masih tetap terjebak di sini,” keluhnya.
Kerugian Logistik dan Ancaman Sanksi Kerja
Di atas kapal tersebut, tercatat ada sekitar 110 unit kendaraan barang dan penumpang yang bernasib sama, menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Bagi para sopir logistik seperti Dedi, peristiwa ini bukan sekadar masalah ketidaknyamanan, melainkan pukulan telak yang menimbulkan kerugian materiil besar.
Dedi mengaku sangat cemas karena keterlambatan ini membuat barang bawaan tidak dapat sampai tepat waktu ke lokasi tujuan. Lebih berat lagi, ia mengkhawatirkan keberlangsungan pekerjaannya di perusahaan. Ia takut kejadian ini dianggap sebagai kelalaian pribadinya, padahal situasi tersebut murni akibat ketidaksiapan armada pengangkutan operator.
”Saya sangat merugi, dan yang paling saya khawatirkan adalah pekerjaan saya. Bagaimana pun saya harus mempertanggungjawabkan barang yang saya bawa, padahal keterlambatan ini murni di luar kendali saya. Saya berharap ada pihak yang bertanggung jawab dan memberikan kejelasan kepada kami semua,” ujar Dedi penuh harap.
Hingga berita ini diturunkan, ratusan penumpang dan pengemudi masih tertahan di atas kapal dengan kondisi yang semakin memprihatinkan. Mereka mendesak adanya langkah nyata dari pihak pengelola kapal maupun instansi terkait demi keselamatan dan kepastian evakuasi. (Red)