
Pringsewu, Sinarlampung.co — Semangat membangun generasi akademik yang unggul dan berdaya saing mewarnai kegiatan Yudisium Sarjana dan Pascasarjana Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Pringsewu yang digelar di Aula STIT Pringsewu, Senin (11/5/2026). Sebanyak 186 peserta yudisium sarjana dan pascasarjana mengikuti kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Generasi Akademik Berkualitas”.
Dalam momentum akademik tersebut, orasi ilmiah disampaikan oleh Riki Renaldo dengan mengangkat tema besar “Kewirausahaan Lembaga Pendidikan Islam”. Materi yang disampaikan mendapat perhatian serius dari peserta karena dinilai relevan dengan tantangan dunia pendidikan Islam di era modern.
Dalam pemaparannya, Riki Renaldo menegaskan bahwa pendidikan agama Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moralitas, dan integritas generasi muda Muslim. Menurutnya, integrasi nilai kewirausahaan dalam pendidikan Islam menjadi langkah penting agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Pendidikan agama Islam bukan hanya membentuk pemahaman keagamaan, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang kreatif, inovatif, dan memiliki semangat membangun usaha,” ujarnya di hadapan ratusan peserta yudisium.
Ia menjelaskan, kewirausahaan atau entrepreneurship tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas bisnis semata, melainkan sebagai jiwa dan sikap dalam menciptakan peluang, melakukan inovasi, serta menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, seorang wirausahawan harus memiliki sejumlah karakter penting, di antaranya visi dan tujuan yang jelas, proaktif, berorientasi pada prestasi, berani mengambil risiko, pekerja keras, bertanggung jawab, memegang komitmen, serta mampu membangun hubungan baik dengan berbagai pihak.
Dalam orasi ilmiahnya, Riki Renaldo juga mengulas peran lembaga pendidikan Islam sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. Ia menyebut pesantren, madrasah, sekolah Islam terpadu hingga perguruan tinggi keagamaan Islam seperti UIN, IAIN, STAIN dan STIT memiliki peluang besar untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis pendidikan.
“Lembaga pendidikan Islam tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga harus mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat,” tegasnya.
Ia menerangkan, terdapat dua bentuk penerapan kewirausahaan dalam lembaga pendidikan Islam. Pertama, menerapkan nilai-nilai kewirausahaan dalam tata kelola lembaga pendidikan. Kedua, memberdayakan seluruh potensi lembaga menjadi kegiatan ekonomi produktif yang hasilnya dapat digunakan untuk mendukung kemajuan pendidikan.
Menurutnya, upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan kelembagaan, pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas tenaga pendidik, hingga pembinaan peserta didik agar memiliki mental mandiri dan produktif sejak dini.
Kegiatan yudisium berlangsung khidmat dan penuh semangat. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara, terutama saat sesi orasi ilmiah yang dinilai memberikan motivasi baru bagi lulusan untuk menghadapi dunia kerja maupun menciptakan peluang usaha di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, STIT Pringsewu berharap para lulusan tidak hanya menjadi sarjana yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi generasi yang berkontribusi dalam pembangunan pendidikan, sosial, dan ekonomi umat. (Wisnu)