
BANDAR LAMPUNG, sinarlampung.co – Matahari Senin pagi, 5 Mei 2026, terasa begitu menyengat. Baru pukul 10.00 WIB, namun teriknya seolah membakar kulit, persis seperti suasana tengah hari. Namun, di balik jeruji besi kandang penjemuran Lembah Hijau, cuaca ekstrem itu tak menyurutkan keriuhan sebuah keluarga baru.
Lembah Hijau Ukir Sejarah: Dua Bayi Harimau Sumatera Lahir dari Indukan Penyintas Jerat
Dua bayi Harimau Sumatera berusia 75 hari tampak tak bisa diam. Mereka berlarian, bergumul, dan saling kejar di bawah pengawasan ketat sang induk, Atu Sinta. Sinta, sang harimau betina, sesekali menggeram halus, memantau buah hatinya melalui insting liarnya, sementara para petugas konservasi mengawasi setiap gerak-gerik mereka melalui layar CCTV demi menjaga privasi sang induk.
Pemandangan menggemaskan ini menjadi kontras ketika melihat Kyai Batua. Sang harimau jantan itu tampak asyik bersantai di kandang luar. Ia tenang, sesekali menoleh ke arah puluhan wartawan yang membidiknya dengan lensa kamera dari lokasi ekspose. Seolah sadar dirinya adalah bintang utama, Batua tetap gagah meski ada yang berbeda pada fisiknya.
Pertemuan Dua Penyintas
Kisah kelahiran ini bukan sekadar soal penambahan populasi. Ini adalah hikayat tentang dua penyintas yang menolak menyerah pada takdir pahit.
Kyai Batua (Studbook ID 1886) adalah saksi bisu kekejaman pemburu liar. Ia diselamatkan dari jerat di Desa Batu Ampar, Suoh, Lampung Barat pada 2 Juli 2019. Luka infeksi yang teramat parah memaksa tim medis mengamputasi kaki kanan depannya. Batua harus hidup dengan cacat permanen, kehilangan tumpuan utamanya sebagai pemangsa puncak.
Setali tiga uang, Sinta (Studbook ID 1998) juga membawa luka serupa. Ia ditemukan terjerat di hutan Bengkulu pada Desember 2024. Sinta kehilangan kaki kanan belakangnya. Dua harimau yang “pincang” ini dipertemukan di Lembah Hijau Lampung dalam program konservasi Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV.
Banyak yang sempat ragu, mampukah sepasang satwa dengan keterbatasan fisik ini bereproduksi? Jawabannya lahir pada 14 Februari 2026—tepat di hari kasih sayang—dua nyawa baru menghirup udara dunia.
Simbol Keberhasilan Konservasi
Komisaris Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, M. Irwan Nasution, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Baginya, kehadiran dua bayi ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang bagi pelestarian genetik satwa langka.
“Ini bukti nyata keberhasilan program konservasi Harimau Sumatera di sini. Unik, karena kedua induknya adalah satwa korban jerat. Kelahiran ini merupakan yang pertama di Lampung dalam skema konservasi ex situ (di luar habitat alami),” ujar Irwan di tengah riuh jepretan kamera wartawan.
Keberhasilan ini adalah buah kolaborasi panjang antara BKSDA Bengkulu-Lampung, Balai TNBBS, dan Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI). Tim medis dan perawat satwa di Lembah Hijau telah bekerja keras menciptakan lingkungan yang menyerupai habitat asli agar Batua dan Sinta merasa cukup nyaman untuk memulai sebuah keluarga.
Pesan dari Balik Kandang
Manajer Zoo Lembah Hijau, Rasyid Ibransyah, menambahkan bahwa proses perkawinan keduanya dilakukan secara terukur dan terkontrol sesuai mandat nasional. Ke depan, fasilitas kandang akan terus diperkuat agar individu baru ini tumbuh optimal.
Namun, di balik kegembiraan ini, ada pesan yang lebih dalam. Kelahiran dua bayi harimau ini adalah teguran keras bagi manusia. Jika Batua dan Sinta kehilangan kaki karena ego pemburu, maka anak-anak mereka adalah simbol harapan agar tak ada lagi harimau lain yang harus mengalami nasib serupa.
Saat jarum jam terus beranjak, matahari kian terik. Dua bayi harimau itu akhirnya kelelahan dan meringkuk di dekat Sinta. Di kejauhan, Kyai Batua masih tetap bersandar tenang. Ia mungkin tak bisa lagi berlari kencang di belantara Suoh, namun melalui dua anaknya, langkah sang “Raja Hutan” kini resmi berlanjut. (Juniardi/***)