
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Pemerintah Provinsi Lampung terus mendorong pengembangan sektor pariwisata, salah satunya melalui penguatan desa wisata berbasis pengalaman (experience).
Berdasarkan data, hingga saat ini tercatat sebanyak 133 desa di Provinsi Lampung telah terdaftar dalam Jejaring Desa Wisata (Jadesta). Namun, pemerintah akan melakukan verifikasi lebih lanjut untuk menentukan desa yang diprioritaskan dalam pengembangan, termasuk melihat keaktifan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Plt Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, Tony Ferdiansyah, mengatakan pengembangan desa wisata tidak hanya berfokus pada destinasi, tetapi juga pada pengalaman yang dirasakan wisatawan secara menyeluruh.
“Wisatawan harus mendapatkan pengalaman yang utuh, bukan hanya melihat tempat wisata, tapi juga merasakan kehidupan desa,” ujar Tony.
Menurutnya, konsep berbasis pengalaman ini mencakup berbagai aspek, mulai dari kebersihan lingkungan, kearifan lokal, budaya, hingga kuliner dan kriya khas daerah.
Selain itu, Pemprov Lampung juga tengah menyiapkan integrasi antara konsep desaku maju, desa wisata, dan desa budaya. Langkah ini dinilai mampu menciptakan desa dengan daya tarik yang lebih komprehensif.
“Kalau potensi wisata, infrastruktur, dan nilai budaya bisa digabungkan, maka akan terbentuk desa wisata yang lengkap dan memberikan pengalaman luar biasa bagi wisatawan,” katanya.
Tony menegaskan, Lampung memiliki potensi wisata yang besar, namun perlu didukung dengan pengelolaan yang optimal, baik dari sisi destinasi, sumber daya manusia, maupun pemasaran.
“Potensi wisata di Lampung sangat banyak. Ini harus terus kita tingkatkan, baik dari sisi destinasi, sumber daya manusia, maupun pemasarannya,” tegasnya.
Dari sisi destinasi, ia menekankan pentingnya manajemen pengelolaan yang baik, termasuk pemeliharaan sarana dan prasarana serta aspek lingkungan. Selain itu, faktor keselamatan juga menjadi perhatian utama, terutama di kawasan wisata tirta seperti sungai, air terjun, dan laut.
“Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas. Termasuk akses infrastruktur menuju destinasi wisata yang harus terus ditingkatkan,” ujarnya.
Di sektor sumber daya manusia (SDM), pemerintah berupaya meningkatkan kapasitas pengelola wisata melalui pendidikan dan pelatihan, termasuk penguatan pemahaman manajemen pariwisata.
“Lampung punya potensi alam, tapi SDM juga harus mumpuni agar pengelolaan wisata bisa maksimal,” tambahnya.
Sementara dari sisi pemasaran, promosi akan terus diperkuat, terutama melalui pemanfaatan media sosial dengan melibatkan influencer dan brand ambassador untuk memperluas jangkauan wisata Lampung.
Upaya tersebut dilakukan seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Lampung sepanjang 2025 yang diperkirakan mencapai puluhan juta orang. Pemerintah berharap, penguatan desa wisata berbasis pengalaman dapat menjadi salah satu motor utama dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di daerah. (*)