
Jepara, sinarlampung.co – Sebuah drama kehidupan yang berakhir tragis layaknya klimaks film samurai terjadi di Jepara, Jawa Tengah. Wardoyo (64), nekat mengakhiri hidupnya dengan menelan racun apotas usai melakukan aksi pembakaran brutal yang menewaskan mertuanya sendiri.
Jika dalam film Death of a Samurai (2011), tokoh Hanshiro Tsugumo memilih seppuku atau menghujamkan katana ke perut demi kehormatan, Wardoyo justru memilih jalan gelap yang jauh dari narasi kepahlawanan. Ia menelan racun setelah diliputi dendam dan emosi yang meluap.
Setelah sempat menjalani perawatan intensif sejak Jumat dini hari (3/4), Wardoyo dilaporkan meninggal dunia pada Senin pagi (6/4) pukul 07.00 WIB. Racun apotas yang ditelannya mengakibatkan luka bakar parah pada tenggorokan hingga memicu gagal ginjal kronis.
Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar, menjelaskan bahwa penyidik sempat berupaya meminta keterangan dari pelaku saat kondisinya kritis. Namun, proses hukum tersebut terhenti seiring dengan memburuknya kondisi kesehatan tersangka hingga dinyatakan tewas.
Peristiwa memilukan ini bermula saat Wardoyo menyelinap ke rumah mantan istrinya dengan membawa bensin. Di tengah keheningan malam, saat mantan istrinya, S (63), dan sang mertua, M (90), tengah terlelap tidur berdampingan, pelaku menyiramkan bahan bakar dan menyulut api.
Api yang berkobar hebat seketika menghanguskan kamar tersebut. Sang mertua (M) mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (4/4) akibat luka bakar yang teramat parah. Sementara mantan istrinya (S), hingga kini masih dalam kondisi kritis dengan luka bakar mencapai 90 persen di sekujur tubuhnya.
Dugaan sementara, aksi nekat ini dilatarbelakangi oleh konflik pribadi yang telah lama bergejolak antara Wardoyo dan keluarga korban. Namun, detail mendalam mengenai motif utama aksi ini tidak akan pernah terungkap sepenuhnya. “Karena tersangka utama telah meninggal dunia, maka sesuai aturan hukum, kasus ini resmi dihentikan (SP3),” tegas AKP M Faizal Wildan.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, sekaligus menjadi pengingat pahit tentang betapa hancurnya sebuah kehidupan ketika emosi dan dendam dibiarkan berujung pada kekerasan tanpa batas. (Red)