
Pesawaran, sinarlampung.co – Kapal Banawa Nusantara, aset hibah dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI, kini menjadi pemandangan menyedihkan di Dermaga 4 Ketapang, Desa Batu Menyan, Kabupaten Pesawaran. Kapal wisata yang awalnya diproyeksikan untuk mendongkrak pariwisata bahari tersebut kini dalam kondisi rusak parah dan nyaris tenggelam tanpa perawatan.
Kapal Hibah Kemenhub Banawa Nusantara Mangkrak nyaris Tenggelam dan Bebani Dermaga Ketapang
Meski Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Pesawaran dikabarkan telah meninjau lokasi dan berjanji akan memindahkan bangkai kapal tersebut, hingga Sabtu 4 April 2026, aset berbahan dasar kayu itu masih dibiarkan mangkrak.
Kondisi fisik kapal dengan spesifikasi panjang 13,5 meter dan kapasitas 24 penumpang ini sudah tidak layak pakai. Cat lambung memudar, komponen mesin tidak terawat, dan lambung kapal dilaporkan mengalami kebocoran serius.
Keberadaan kapal mangkrak ini tidak hanya merugikan secara materiil, tetapi juga mengganggu aktivitas transportasi di Dermaga 4 Ketapang. Warga setempat, Zai, menyebutkan bahwa posisi kapal tersebut menghalangi proses bongkar muat barang dan wisatawan yang hendak menuju Pulau Wayang maupun Pulau Pahawang.
“Kapal ini sudah rusak sejak awal puasa. Pak Kadis sudah turun melihat langsung, tapi sampai sekarang tidak ada tindakan. Sekarang hanya jadi tontonan wisatawan saja,” ujar Zai.
Warga lain, Jon, menyayangkan terbengkalainya aset negara tersebut. Menurutnya, kapal ini sempat direncanakan untuk dikelola bersama investor dari Jakarta guna mendukung wisata bahari Pesawaran. Namun, skema operasional yang tidak jelas membuat kapal ini perlahan hancur dimakan usia.
“Ini mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan. Aset sudah disiapkan tapi tidak diikuti dengan manajemen operasional yang jelas. Ini berpotensi merugikan keuangan daerah karena pemeliharaannya diabaikan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Perhubungan Kabupaten Pesawaran belum memberikan keterangan resmi terkait alasan penghentian operasional maupun rencana penyelamatan aset Banawa Nusantara tersebut.
Kapal yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi warga di sektor wisata, kini justru hanya terdiam di dermaga sebagai simbol proyek yang gagal memenuhi harapan publik.