
LAMPUNG TENGAH, sinarlampung.co– Gema takbir yang bersahutan di langit Kampung Adijaya, Kecamatan Terbanggi Besar, seharusnya menjadi penanda kemenangan bagi Hj. Hanifah Nasution (65). Namun, Sabtu 21 Maret 2026 pagi itu, langkah kakinya yang ringan sepulang dari lapangan Salat Idul Fitri 1447 H seketika terhenti. Bukan pelukan hangat keluarga yang menyambutnya, melainkan asap hitam pekat yang membubung tinggi dari atap rumahnya.
Ruko empat pintu miliknya, tempat ia menyambung hidup dengan berdagang sembako dan ponsel, kini hanya menyisakan kerangka hitam yang berasap. Api melalap habis seluruh isinya tepat saat warga sedang khusyuk bersujud di hadapan Sang Khalik, sekitar pukul 07.30 WIB.
”Pemilik baru tahu rumahnya terbakar justru saat jalan pulang dari salat,” kenang salah seorang saksi mata yang melihat kepanikan di wajah renta Hanifah.
Dalam sekejap, suasana Lebaran yang ceria berubah menjadi gotong royong darurat. Serka Ristanto dari Koramil Terbanggi Besar dan personel Polsek setempat langsung terjun ke lokasi, bahu-membahu bersama warga yang menggunakan ember dan alat seadanya untuk menjinakkan si jago merah.
Tak lama, raungan sirine mobil pemadam kebakaran Pemda Lampung Tengah membelah kesunyian pagi. Petugas PLN pun bergerak cepat memutus aliran listrik agar api tak merambat ke pemukiman warga yang padat. Namun bagi Hanifah, kecepatan itu tak mampu menyelamatkan harta benda yang ia kumpulkan bertahun-tahun.
Di balik puing-puing yang masih panas, sebuah mobil Opel Blazer miliknya kini hanya menyisakan rongsokan besi. Stok sembako untuk persiapan Lebaran, tumpukan ponsel dagangan, hingga pakaian baru yang sedianya akan dikenakan untuk bersilaturahmi, semuanya ludes jadi abu.
Kerugian materiil yang ditaksir mencapai Rp500 juta memang angka yang besar, namun trauma kehilangan tempat bernaung di hari raya adalah beban yang jauh lebih berat. Dugaan sementara, korsleting listrik menjadi biang keladi yang mengubah fajar Idul Fitri ini menjadi kelabu bagi keluarga Hanifah.
Kini, di saat warga lain mencicipi ketupat dan opor ayam, Hj. Hanifah harus tegar menatap sisa-sisa reruntuhan rukonya. Garis polisi yang melintang di depan bangunan itu menjadi saksi bisu bahwa tahun ini, ujian kesabaran baginya datang justru di hari kemenangan. (Red)