
LAMPUNG SELATAN, sinarlampung.co– Cuaca ekstrem yang mengguyur wilayah Kabupaten Lampung Selatan pada Jumat 6 Maret 2026 mengakibatkan banjir besar di Kecamatan Jati Agung dan Tanjung Bintang. Tercatat sedikitnya 444 rumah di berbagai kompleks perumahan terendam air, sementara seorang bocah berusia 9 tahun dilaporkan tewas setelah terseret arus sungai.
Setelah pencarian intensif selama lebih dari 12 jam, tim SAR gabungan akhirnya menemukan Diki Cahyana (9), warga Dusun Jati Rahayu, Desa Kaliasin, Kecamatan Tanjung Bintang, dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu 7 Maret 2026 siang.
Kabid Damkar pada Dinas Damkarmat Lampung Selatan, Rully Fikriansyah, mengonfirmasi jenazah korban ditemukan sekitar 4 kilometer dari lokasi awal kejadian.
“Benar, siang ini korban atas nama Diki sudah ditemukan oleh tim gabungan dan warga di aliran sungai wilayah Tanjung Bintang,” kata Rully.
Dantim Rescuer Basarnas Lampung, Roby Hero, menjelaskan bahwa insiden bermula saat korban bermain mencari ikan bersama rekan-rekannya di pinggir sungai saat hujan deras melanda, Jumat malam sekitar pukul 18.30 WIB. Korban diduga terpeleset dan langsung terseret arus sungai yang meluap.
Jati Agung Jadi ‘Lautan’, Tata Ruang Jadi Sorotan
Sementara itu, di Kecamatan Jati Agung, banjir merendam sedikitnya lima titik permukiman padat. Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kabupaten Lampung Selatan.
berikut adalah sebaran wilayah yang terdampak paling parah:
Perumahan Alfa Residen (Desa Karang Sari) 105 Unit
Perumahan Fanis (Desa Karang Sari) 99 Unit
Perumahan Pemda (Desa Way Huwi) 90 Unit
Perumahan Diamond (Desa Gedung Harapan) 50 Unit
Perumahan Permata Asri (Desa Karang Anyar) 50 Unit
Pemukiman Desa Marga Agung 50 Unit
(Total Estimasi 444 Unit)
Pembangunan kompleks perumahan yang masif dalam tiga tahun terakhir di Jati Agung dituding menjadi biang kerok bencana ini. Penelusuran di lapangan menunjukkan adanya dugaan pelanggaran Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Banyak pengembang perumahan dinilai tidak mempertimbangkan sistem drainase dan amdal secara matang. Alhasil, area yang dulunya merupakan daerah resapan air kini berubah menjadi beton, sehingga saat curah hujan tinggi, air langsung meluap ke rumah-rumah warga.
Praktik pembangunan yang dianggap “semaunya” ini memicu desakan agar pemerintah daerah segera melakukan audit lingkungan terhadap seluruh izin perumahan di wilayah penyangga Bandar Lampung tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, warga di beberapa lokasi masih berupaya membersihkan sisa-sisa lumpur, sementara pihak BPBD terus bersiaga mengantisipasi adanya banjir susulan. (Red)