
Lampung Timur, sinarlampung.co – Tidak ada pesta kembang api atau tawa sukacita menyambut tahun baru 2026 bagi warga Desa Braja Asri, Way Jepara Lampung Timur. Yang ada hanyalah bendera setengah tiang dan air mata.
Kepala Desa mereka, Darusman, gugur dalam tugas yang tak tertulis dalam buku administrasi desa, namun paling nyata di lapangan melindungi warganya dari ancaman gajah liar. Darusman tewas terinjak gajah pada Rabu 31 Desember 2025 pukul 10.30 WIB, tepat di hari terakhir tahun ini.
Ironi menyeruak di balik tragedi ini. Saat pejabat lain mungkin tengah sibuk mempersiapkan sambutan refleksi akhir tahun, Darusman justru “berkantor” di sawah. Sejak malam sebelumnya, kawanan gajah TNWK merangsek masuk, mengancam periuk nasi warganya.
Tanpa rompi anti peluru, hanya bermodal keberanian dan alat seadanya, Darusman memimpin warga menghalau satwa raksasa itu. Namun, alam memiliki kehendaknya sendiri. Seekor gajah mengamuk, dan sang Kades menjadi tameng hidup yang rubuh di tanah kelahirannya sendiri.
Video amatir yang merekam evakuasi tubuh Darusman yang terkulai lemas digotong warga dan polisi, menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga yang harus dibayar dalam konflik agraria ini.
Darusman sempat dilarikan ke RSUD Sukadana dan dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, namun nyawanya tak tertolong di perjalanan.
Kematian Darusman menambah panjang daftar korban konflik satwa di penyangga Way Kambas.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan. Bahwa di Lampung Timur, “hidup berdampingan” dengan satwa liar sering kali berarti bertaruh nyawa.
Kini, pertanyaan besar menggantung di langit Braja Asri, sampai kapan warga dan aparat desa harus berjuang sendirian dengan tangan kosong? Darusman telah purna tugas dengan cara paling heroik sekaligus paling tragis. Selamat jalan, Pak Kades. (Ida Fitriana)