
BANDAR LAMPUNG, sinarlampung.co– Tradisi mudik Lebaran 1447 H/2026 kini bukan sekadar ritual pulang kampung, melainkan “mesin raksasa” yang memompa likuiditas ekonomi nasional hingga angka yang fantastis. Sebagai gerbang utama yang menghubungkan Jawa dan Sumatera, Provinsi Lampung menjadi salah satu titik pusat perputaran uang yang diprediksi menembus angka Rp417 triliun secara nasional.
Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi mudik tahun ini berada di kisaran Rp347 triliun pada skema moderat, hingga mencapai Rp417 triliun dalam skema optimistis. Lonjakan ini memberikan dampak signifikan bagi daerah-daerah perlintasan dan tujuan mudik, terutama Lampung.
”Mesin utama perputaran ratusan triliun rupiah ini adalah kelompok menengah ke atas (Desil 6 hingga 10). Mereka memiliki daya beli kuat untuk membelanjakan uang sepanjang perjalanan hingga di kampung halaman,” ujar Peneliti IDEAS, Agung Pardini, dilansir dari Kantor Berita Politik RMOL.
Dampak Signifikan di Lampung
Bagi Provinsi Lampung, status sebagai jalur perlintasan utama melalui Pelabuhan Bakauheni dan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) menjadikan wilayah ini sebagai penerima manfaat ekonomi yang besar. Perputaran uang mengalir deras ke sektor:
Rest Area dan Kuliner: Lonjakan omzet UMKM di sepanjang jalur tol dan lintas Sumatera.
Oleh-oleh Khas: Peningkatan permintaan drastis pada komoditas lokal seperti kopi, keripik pisang, dan tapis.
Sektor Transportasi: Penyerapan tenaga kerja musiman pada jasa logistik dan armada angkutan.
Namun, riset tersebut juga mengungkap fakta kontras mengenai beban ekonomi. Meskipun secara nominal pengeluaran kelompok atas jauh lebih besar, beban berat justru dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah.
”Kelompok bawah menghabiskan sekitar 200 persen dari konsumsi bulanan mereka untuk mudik, sedangkan kelompok atas sekitar 120 persen,” jelas Agung. Artinya, bagi warga kelas bawah, mudik adalah pengorbanan setara dua bulan biaya hidup demi bisa bersilaturahmi.
Fenomena mudik 2026 membuktikan bahwa daya beli masyarakat masih tangguh. Mudik telah bertransformasi menjadi instrumen redistribusi kekayaan yang efektif dari kota besar seperti Jakarta menuju pelosok desa di Sumatera, khususnya Lampung, sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini.(Red)