
Lampung Timur, sinarlampung.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Badan Gizi Nasional (BGN) dan dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di RT 018 Dusun V, Desa Bandar Negeri, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, menuai keluhan dari para orang tua siswa penerima manfaat.
Keluhan mencuat terkait penurunan kualitas menu MBG, mulai dari variasi menu yang dinilai monoton, porsi sayur dan lauk yang dianggap minim, dugaan makanan mendekati basi, hingga kebersihan wadah makanan (ompreng) yang dipertanyakan.
Keluhan disampaikan para orang tua siswa dan sebagian peserta didik penerima program MBG di sejumlah sekolah dalam wilayah pelayanan SPPG tersebut.
Keluhan mengarah pada SPPG yang beroperasi di Desa Bandar Negeri, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur.
Keluhan ramai beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir, menyusul distribusi menu MBG pada periode 8 hingga 12 Desember 2025.
Para orang tua menilai menu MBG tidak lagi sesuai standar yang ditetapkan BGN, baik dari sisi variasi, kualitas bahan makanan, porsi, maupun higienitas penyajian. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan anak-anak.
Keluhan bermula dari unggahan foto dan video di media sosial yang memperlihatkan menu MBG dengan porsi sayur kecil, lauk berulang dari pekan sebelumnya, serta ompreng yang tampak bernoda. Unggahan tersebut memicu reaksi luas dari wali murid lain yang mengaku mengalami hal serupa.
Sejumlah orang tua menilai SPPG terkesan lebih mengutamakan keuntungan dibanding menjaga kualitas. Selain menu yang dinilai menurun, ditemukan pula wadah makanan yang disebut tidak bersih akibat proses pencucian dan pengelapan yang diduga tidak sempurna.
“Menu nya seringkali itu-itu saja, porsi sayur nya pun sedikit,” tulis salah satu akun Facebook.
Akun lainnya menyoroti kurangnya variasi buah. “Banyak anak tidak mau makan karena bosan. Buah juga sering nya pisang dan salak,” tulisnya.
Keluhan juga datang dari peserta didik. Seorang siswa sekolah dasar penerima MBG menyampaikan harapannya melalui video di media sosial, “Buahnya jangan salak terus… kami mau buah pear atau lainya.”
Informasi yang beredar menyebutkan, buah salak dan pisang menjadi menu yang paling sering diberikan dalam beberapa pekan terakhir, meski pada hari tertentu sempat disertai anggur dan irisan semangka.
Sorotan lebih serius muncul pada dugaan makanan mendekati basi. Pada distribusi hari Rabu, beberapa wali murid mengeluhkan aroma ikan goreng yang dianggap tidak segar saat penutup saji dibuka.
“Begitu dibuka, bau nya rada aneh dan teksturnya terlihat sudah tidak segar. Saya langsung pisahkan,” kata salah seorang wali murid yang mendampingi anaknya bersekolah di salah satu PAUD penerima MBG.
Keluhan serupa juga muncul pada menu nugget ikan yang dibagikan Jumat, 12 Desember 2025. Nugget disebut bertekstur keras dan beraroma tidak biasa.
Selain kualitas menu, kebersihan ompreng turut disorot. Foto-foto yang beredar memperlihatkan noda bekas lap dan bagian wadah yang dinilai tidak benar-benar bersih. Kondisi ini membuat orang tua khawatir akan dampak kesehatan bagi anak-anak mereka.
Meski demikian, para wali murid menegaskan dukungan terhadap program MBG sebagai program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Mereka hanya berharap pelaksana di lapangan menjaga standar kualitas dan higienitas.
“Ini menyangkut masa depan dan kesehatan anak-anak sebagai penerus bangsa ini,” ujar salah satu wali murid.
Seiring meluasnya keluhan, para orang tua meminta BGN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap SPPG, mulai dari variasi menu, kualitas dan kesegaran bahan makanan, kecukupan porsi sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), hingga pengawasan sanitasi dapur dan wadah distribusi.
“Programnya bagus, tapi kalau pelaksanaannya seperti ini, tentu akan menciderai cita-cita besar pemerintah untuk memenuhi gizi generasi emas bangsa. Bahkan, bisa berisiko pada kesehatan anak-anak, cukuplah pengalaman pahit keracunan makanan yang menimpa anak-anak di berbagai daerah. Jangan ada lagi,” keluh wali murid lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Bandar Negeri belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan yang ramai beredar di media sosial tersebut. (Afandi)