
LAMPUNG TIMUR, sinarlampung.co– Jumat dini hari 30 Januari 2026 yang hening menjadi penanda akhir perjalanan panjang H. Muhammad Syae’an. Di usia yang melampaui satu abad, tepatnya 108 tahun, tokoh perintis Lampung Timur itu berpulang dengan tenang, meninggalkan jejak sejarah yang terukir dalam sunyi.
Bagi masyarakat Braja Slebah, nama Syae’an bukan sekadar deretan huruf. Ia adalah babad alas—sosok yang membuka isolasi wilayah ketika Lampung Timur masih berupa rimba dan jalan tanah berbatu.
Dari Medan Gerilya ke Medan Pendidikan
Lahir di Tulungagung pada 20 Mei 1922, masa muda Syae’an dihabiskan di tengah desing peluru. Ia mengangkat senjata bersama Hizbullah Sabilillah (1945) dan TNI Batalyon 51 demi mempertahankan kemerdekaan. Namun, heroisme Syae’an tidak berhenti saat seragam militer ia tanggalkan pada 1959.
Hijrah ke Lampung, ia memilih medan juang baru: melawan kebodohan dan keterisolasian.
Putranya, Himawan Ali Imron, mengenang sang ayah sebagai sosok yang “selesai dengan dirinya sendiri”. Saat fasilitas kesehatan dan pendidikan nyaris nihil, Syae’an bergerak. Ia mendatangkan paramedis dari Jawa Barat untuk berkeliling kampung mengobati warga dan mendirikan sekolah di bawah naungan Yayasan Pusat Pendidikan Islam Lampung (YPPIL).
SMP Islam YPI yang kini berdiri kokoh di Desa Braja Harjosari adalah saksi bisu visi jauh ke depan seorang Syae’an.
Pengabdian Tanpa Panggung
Hingga akhir hayatnya, Syae’an memilih jalan sunyi. Tak ada hiruk-pikuk pencitraan, meski putranya menjadi tokoh politik ternama di Lampung. Ia bekerja dalam diam; mulai dari menjadi Ketua LKMD, berdagang hasil bumi untuk ekonomi warga, hingga meminjamkan jeep pribadinya untuk kebutuhan darurat masyarakat.
“Bapak memilih bekerja tanpa spanduk, tanpa panggung, dan tanpa ambisi dikenang,” ungkap pihak keluarga.
Kini, sang veteran telah beristirahat. H. Muhammad Syae’an meninggalkan enam orang anak dan sebuah warisan tak ternilai: keteladanan bahwa pahlawan sejati tidak selalu berdiri di bawah sorot lampu, melainkan hadir di saat masyarakat membutuhkan.
Selamat jalan, Pak Syae’an. (Rudi Zen Antoni/Ahmad Arfandi)