
Oleh: Ali Rosad (Pemerhati Pendidikan)
Dulu saat kita masih menjadi murid, ketakutan melanggar aturan sekolah adalah sesuatu yang alami. Ada rasa hormat kepada guru, aturan sekolah dan nilai disiplin yang ditanamkan sejak awal. Namun ironisnya hari ini ketika kita menjadi guru, justru muncul rasa takut untuk menegakkan aturan. Bukan karena kita tidak ingin mendidik dengan tegas, tetapi karena risiko sosial yang harus ditanggung. Satu tindakan disiplin bisa dibawa ke media sosial, direkam, diviralkan, bahkan dilaporkan ke pihak berwajib. Kondisi ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan memasuki fase baru, di mana ketegasan sering disalahartikan sebagai kekerasan dan pembinaan dianggap pelanggaran hak.
Padahal konsep tanggung jawab dalam pendidikan sangat jelas. Saat di rumah, siswa adalah tanggung jawab orang tua. Namun saat di sekolah, siswa sepenuhnya berada di bawah bimbingan guru dan kepala sekolah. Maka logikanya, saat siswa melompat pagar hingga merusak fasilitas, guru memiliki hak sekaligus kewajiban untuk memberikan pembinaan sesuai aturan sekolah. Namun kenyataannya ketika guru menegakkan disiplin, sebagian orang tua justru merasa tidak terima, bahkan menjadikan kasus tersebut konsumsi publik demi membela ego, bukan mendidik karakter. Kasus ini bukan hanya cacat logika, tetapi juga cacat moral.
Sekarang mari kita balik situasinya. Jika di sekolah siswa dididik agar tertib dan berperilaku baik, tetapi di rumah siswa dibiarkan merokok, minum minuman keras, atau berperilaku buruk, bolehkah guru mendatangi rumah orang tua, marah dan memviralkan karena merasa pendidikan sekolah dirusak? Tentu tidak. Pasti publik pun akan menyalahkan guru. Saya berpendapat bahwa jelas standar moral kita sedang terkikis oleh ego dan budaya sensasi. Dunia pendidikan seolah terbalik : guru dibatasi, siswa dibebaskan, orang tua mudah tersinggung, namun semua tetap menuntut hasil pendidikan terbaik.
Pendidikan bukan hanya tentang intelektualitas, tetapi juga karakter dan moralitas. Guru bukan sekadar pengajar, tetapi pembimbing akhlak. Oleh sebab itu orang tua, siswa dan masyarakat harus melihat persoalan ini dengan kacamata positif dan dewasa. Mari kita dukung guru menegakkan aturan sesuai etika pendidikan, bukan mengkriminalisasinya. Jika kita ingin melahirkan generasi berkarakter, rasa hormat harus kembali pada tempatnya. Kritik boleh namun kesadaran tanggung jawab harus berjalan seimbang. Jangan sampai kebebasan tanpa batas justru melahirkan generasi tanpa arah.