
Lampung Timur, sinarlampung.co – Hevea Brasiliensis, atau yang lebih populer di kenal pohon karet. Sebelum dibawa bangsa Eropa ke Asia, Hevea Brasiliensis dalah tanaman endemik alami kawasan pedalaman hutan amazon, Amerika Latin.
Jauh sebelum bangsa eropa mengenal getah karet. Suku Olmec, Aztec dan suku maya,bsuku asli pedalaman hutan Amzon, sudah lebih dulu menggunakan getah karet dalam kegidupan mereka. Ketiga suku tersebut, menggunakan getah karet sebagai perekat, membuat bola untuk permainan, serta alat keperluan ritual.
Pada periode tersebut, latex karet masih dianggap sebelah mata oleh bangsa Eropa, hingga pada abad XVI. Penjelajah dari Spanyol dan Portugis, mulai memperkenalkan karet ke dunia barat. Dari sinilah, getah karet mulai dikenal luas, dan berkembang menjadi komoditi bernilai tinggi.
Meningkatnya kebutuhan getah karet secara signifikan, tak luput dari jasa Charles Goodyear, seorang penemu asal Amerika serikat, pada tahun 1839, Charles Goodyear menemukan proses Vulkanisasi pada karet, penemuan tersebut menjadi tonggak sejarah industri pembuatan ban mulai.
jejak Darah Dan Genosida, Kolonialisasi Karet Bangsa Eropa
Medio tahun 1870 hingga tahun 1912, terjadi lonjakan permintaan getah karet, lonjakan tersebut dikenal dengan istilah “Rubber Boom“. Revolusi Industri jilid 2 di eropa, penyebab meningkatnya kebutuhan getah karet untuk memenuhi kebutuhan industi mesin, kimia, otomotif dan telefon di Eropa dan Barat.
Pada titik itulah, sejarah kelam karet dimulai. Untuk memenuhi tingginya kebutuhan getah karet di Eropa dan Barat, suku asli Amazon dipaksa bekerja untuk menyadap getah dari pohon karet di pedalam hutan, siksaan bahkan pembunuhan dilakukan kepada suku pribumi amazon yang tidak mampu memenuhi kuota.
Pada medio tahun 1890 hingga tahun 1912. Perusahaan pengolahaan karet asal Inggris, “Peruvian Amazon Company” (PAC) Dituduh melakukan penyadapan latek karet dengan kerja paksa, penyiksaan, pemerkosaan, hingga pembunuhan kepada ribuan orang suku pribumi lokal Putumayo di Peru,Genosida tersebut dikenal dengan istilah ‘Scandal Putumayo” Laporan scandal tersebut,ditulis oleh Roger Cassment,diplomat asal Inggris yang kemudian dipublikasikan ke dunia Internasional.
Ekspansi Pohon Karet Ke Asia Tenggara
Penyebaran karet ke Asia Tenggara,tidak lepas dari peran kolonial Inggris. Pada tahun 1876, seorang penjelajah Inggris bernama Henry Wickham, menyelundupkan 70.000 biji karet dari Brasil ke Kebun Raya Kew di London. Kemudian, Henry Wickham membawa biji karet tersebut ke wilayah koloni Inggris di Ceylon Sri Lanka, untuk kemudian ditanam di Singapura.
Dari Singapura, bibit karet kemudian tersebar ke Malaysia serta wilayah koloni Inggris lainnya. Belanda, mengikuti langkah Inggris dengan membawa bibit biji karet untuk ditanam di wilayah Indonesia.
Pada awal abad ke 20, perkebunan karet mulai berkembang pesat di Indonesia, puncaknya pada tahun 1930. Indonesia dan Asia Tenggara, menjadi penghasil Latek karet terbesar dan mendominasi 90% pasar Global.
Serangan hama Microcyclus ulei, kutu penyebar virus penyakit South American Leaf Blight (SALB). Menyebabkan produksi latex karet hutan Amazon menurun drastis,dan akhirnya berujung pada kematian massal pohon karet di seluruh kawasan Amerika Latin.
Sejarah karet adalah sejarah paradoks,getah lentur tersebut,menyatukan dunia dalam roda industri dan transportasi,namun ia juga meninggalkan jejak darah,luka ekologis,dan warisan eksploitasi kolonial. (Affandi)