
Lampung Timur, sinarlampung.co – Tragedi kecelakaan maut di Jalan Sutami, Desa Sripendowo, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, Minggu (7/9/2025), menyisakan duka mendalam. Seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun berinisial RP kini harus menjalani hidup seorang diri setelah ayah, ibu, dan adik bungsunya meninggal dalam peristiwa tersebut.
Kecelakaan bermula ketika mobil minibus Kijang Innova warna hitam dengan nomor polisi BG 1947 YL yang dikemudikan VE (30), bersama dua rekannya CR (22) dan JN (49), menabrak sepeda motor Honda Beat putih dengan nomor polisi B 6968 CTX. Motor tersebut dikendarai pasangan suami istri SB (50) dan GR (35), yang saat itu membonceng anak mereka, DA (9).
Nahas, nyawa DA tidak tertolong meski sempat dirawat di RS AKA Medika Bandar Sribhawono. GR menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju rumah sakit, sementara SB yang sempat dirujuk ke RSUD Abdoel Moeloek, Bandar Lampung, meninggal sehari kemudian.
Kepala Desa Sripendowo, Suyoto, mengatakan pihaknya akan mendampingi RP yang kini menjadi ahli waris tunggal korban kecelakaan tersebut. “Proses administrasi sudah rampung. Setelah rekening bank ahli waris selesai, seluruh santunan akan disalurkan langsung ke rekening RP sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.
Santunan Jasa Raharja telah diserahkan oleh perwakilan Jasa Raharja Lampung Timur, Eko Maulana Saputra, saat berkunjung ke rumah duka. Ia menyampaikan duka cita mendalam serta memastikan hak santunan diterima penuh oleh ahli waris.
Kepala Jasa Raharja Cabang Metro, Nila Febrianty, dalam keterangan resminya menyebut santunan tersebut merupakan wujud kehadiran negara untuk melindungi masyarakat korban kecelakaan lalu lintas. “Kami berharap santunan ini dapat meringankan beban keluarga yang ditinggalkan, meski tentu tidak bisa menggantikan kehilangan besar yang dialami,” tulisnya dalam laman resmi Jasa Raharja Metro, Kamis (11/9/2025).
Peristiwa tragis ini menjadi pengingat betapa pentingnya kehati-hatian dalam berkendara dan kepatuhan pada aturan lalu lintas. Musibah yang menimpa keluarga kecil di Lampung Timur itu diharapkan bisa menjadi pelajaran bersama agar angka kecelakaan dapat ditekan.
Kini, RP harus melanjutkan hidup seorang diri dengan segala kesedihan yang menyelimuti. Kehilangan orang-orang terdekat di usia muda tentu bukan hal mudah, namun dukungan lingkungan dan santunan yang diterimanya diharapkan bisa menjadi penopang untuk masa depan yang lebih baik. (Afandi)